MANOKWARI – Kasus HIV di Kabupaten Manokwari, Papua Barat kembali menyita perhatian publik. Dalam kurun waktu Januari hingga September 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari mencatat ada 269 warga yang dinyatakan positif HIV dari total 4.901 orang yang menjalani pemeriksaan.
Penanggung Jawab Program HIV/PIMS Dinkes Manokwari, Everdina Yuliana Wanggai, menjelaskan bahwa data tersebut merupakan hasil pemeriksaan masif di berbagai fasilitas kesehatan.
“Kalau dari Januari sampai September 2025, ada 4.901 yang dites, dan yang positif itu ada 269. Data ini tidak bisa langsung disebut peningkatan karena bersifat dinamis,” kata Everdina, Kamis 16 Oktober 2025.
Baca Juga: Mengenal Jenis-jenis Influenza dan Gejalanya
Menurutnya, temuan kasus baru HIV di Manokwari merupakan hasil dari upaya deteksi dini. Langkah ini terus diperluas karena ancaman penularan HIV di masyarakat semakin meluas.
Ia menambahkan, jumlah kasus yang terdeteksi sangat dipengaruhi oleh intensitas pemeriksaan di lapangan.
“Kalau pemeriksaannya banyak, tentu temuan juga banyak. Tapi kalau sedikit yang diperiksa, maka temuan juga sedikit. Jadi angka kasus ini tidak bisa langsung disimpulkan naik atau turun,” ujarnya lagi.
Everdina menegaskan bahwa langkah paling penting saat ini adalah mendorong masyarakat yang belum tes untuk segera datang ke fasilitas kesehatan.
“Imbauan kami bagi yang belum diperiksa agar segera datang ke puskesmas. Sedangkan bagi yang sudah terdeteksi positif, harus patuh menjalani pengobatan karena ada solusi yaitu dengan rutin minum obat,” tegasnya.
Baca Juga: Obat Sirup Asal India Kembali Telan Korban Jiwa, Kenali Mereknya
Dinas Kesehatan Manokwari kini memperkuat layanan tes dan pengobatan di puskesmas serta rumah sakit. Pemerintah juga menambah layanan PDP (Pengobatan dan Pendampingan Pasien) agar masyarakat mendapatkan penanganan lebih cepat dan dekat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah daerah untuk mencapai target eliminasi HIV/AIDS nasional. Upaya itu dilakukan dengan memperluas akses tes, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta menjamin pengobatan berkelanjutan bagi pasien positif.
Ia menjelaskan, tingkat kasus HIV tidak bisa langsung dikategorikan tinggi atau rendah karena penyakit ini memiliki periode laten yang panjang.
“Yang bisa kami katakan adalah kasus telah ditemukan dan kami terus berupaya mencapai indikator eliminasi sesuai target nasional,” ujarnya.
12 Faskes Disiapkan Tangani Penularan dari Ibu ke Bayi
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Manokwari telah menyiapkan 12 fasilitas kesehatan (faskes) untuk memperkuat pencegahan penularan penyakit menular dari ibu ke bayi. Upaya ini tidak hanya menyasar HIV, tetapi juga sifilis dan Hepatitis B.
Everdina merinci, enam puskesmas berada di wilayah kota, empat rumah sakit. Serta dua puskesmas di daerah pinggiran yaitu Puskesmas Mansinam dan Puskesmas Sidey.
“Kita memberikan pelatihan agar tenaga kesehatan dapat memberikan penanganan sesuai standar dan tata laksana yang tepat, terutama dalam mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi,” jelasnya.
Puskesmas yang dilibatkan juga akan dikembangkan menjadi Puskesmas Pengobatan dan Pendampingan (PDP) sehingga pasien positif dapat ditangani langsung tanpa harus dirujuk ke rumah sakit.
Dengan demikian, ketika ada ibu hamil yang terdeteksi positif HIV atau penyakit menular lainnya, penanganan bisa dilakukan lebih cepat di tingkat puskesmas.
Data Ibu Hamil dan Bayi
Berdasarkan data Dinkes Manokwari sepanjang Januari–September 2025:
- Sebanyak 2.707 ibu hamil menjalani tes Hepatitis B dan ditemukan 87 kasus positif.
- Sebanyak 2.449 ibu hamil menjalani tes sifilis dengan 218 kasus positif.
- Sebanyak 2.683 ibu hamil menjalani tes HIV dengan 65 kasus positif.
- Selain itu, 36 bayi telah menerima vaksin HBIG, dan 25 bayi menjalani pemeriksaan AID Early Infant Diagnostic (EID).
Everdina menekankan, penting bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan sejak awal kehamilan atau kunjungan K1 Murni, yaitu kontak pertama dengan tenaga kesehatan.
“Jika ditemukan kasus positif pada kunjungan pertama, maka dapat segera dilakukan tata laksana yang tepat untuk memutus rantai penularan dari ibu ke bayi,” tegasnya.
Para tenaga kesehatan juga dibekali pelatihan komunikasi efektif, tata laksana ibu hamil dan bayi, pencatatan dan pelaporan, serta perencanaan logistik untuk mendukung program ini.
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















