BATAM – Momen unik mewarnai kemeriahan pembukaan Gebyar UMKM Batam 2025 yang digelar di Pelataran Engku Putri Batam Centre, Rabu 5 November 2025. Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, tampak ikut berjoget bersama anak-anak yang menampilkan Joget Dangkong, lengkap dengan memberikan saweran uang seratus ribu rupiah kepada masing-masing peserta cilik tersebut.
Aksi spontan itu disambut tepuk tangan meriah dari masyarakat yang hadir. Amsakar terlihat tersenyum bangga di tengah para penari cilik yang memainkan joget khas Melayu Kepulauan Riau itu.
Usai acara seremonial, Amsakar melakukan pemotongan pita bersama Wakil Walikota Batam, Li Claudia Chandra sebagai tanda dibukanya secara resmi kegiatan yang digelar oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam tersebut.
Setelah itu, ia turut melukis Batik Barelang khas Batam dan berkeliling menyusuri stan-stan bazar UMKM. Ia bahkan mentraktir sejumlah pengunjung dengan membeli beragam camilan lokal.
Pemkot Batam Siapkan Program Dukung UMKM Naik Kelas
Ditemui usai acara, Amsakar menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Gebyar UMKM Batam 2025. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting sebab memiliki urgensi tersendiri untuk dilaksanakan.
Amsakar menyebut terdapat sekitar 8.000 UMKM yang ada di Batam dan baru 2.000 atau 25 persen yang baru tersentuh program pemerintah.
“Untuk usaha mikro, kecil, dan menengah ini harus ada keberpihakan pemerintah. Berdasarkan pengalaman saya, UMKM rata-rata berhadapan dengan lima persoalan utama,” ujar Amsakar kepada awak media.
Ia merinci, persoalan yang dihadapi UMKM meliputi keterbatasan tata kelola dan manajemen, akses permodalan atau perbankan, kemasan produk yang masih alakadarnya, sumber daya manusia, serta akses pemasaran.
“Lima hal ini menyebabkan UMKM kita relatif sulit untuk berkembang. Namun, UMKM adalah pelaku ekonomi paling tangguh. Walaupun sulit membesar, mereka menyerap tenaga kerja besar dan menggerakkan sektor informal,” jelasnya menyampaikan.
Amsakar menegaskan, perlu adanya intervensi kebijakan dari pemerintah sesuai dengan lima persoalan tersebut. Ia mencontohkan, Pemkot Batam memiliki Badam Layanan Umum Daerah (BLUD) Pengelolaan Dana Bergulir (PDB) yang dapat membantu pelaku UMKM melalui pinjaman berbunga rendah sekitar 4 persen.
“Selain itu, ada juga bantuan pinjaman hingga Rp20 juta tanpa bunga,” sambungnya.
Untuk peningkatan manajemen dan SDM, pemerintah juga menyediakan pelatihan sistem akuntansi koperasi untuk UMKM.
“Sebab pelaku UMKM terkadang tidak sadar membedakan antara uang bisnis dan uang pribadi. Ini persoalan manajemen,” katanya menambahkan.
Ia menambahkan, penguatan SDM juga mencakup pelatihan profesional, pengurusan izin, hingga sertifikasi halal produk dan lainnya. Sedangkan untuk pemasaran, Pemkot Batam berupaya membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.
“Kalau produknya sudah bagus dan memenuhi standar, bisa saja kita dorong untuk kerja sama dengan Circle K, Indomaret, Alfamart, mall, bisa aja,” ujar Amsakar.
Menurutnya, beberapa produk UMKM Batam kini sudah rutin dikirim ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.
“Ini membanggakan dan membahagiakan,” katanya.
Sementara produk-produk Industri Kecil Menengah (IKM) seperti bunga gonggong dan batik Batam menjadi contoh yang kini cukup tumbuh berkembang. Batik Barelang saja saat ini telah menyentuh omset penjualan Rp2 Miliar Rupiah dalam kurun waktu dua bulan usai di launching.
“Jadi salah satu cara untuk memperkecil tingkat pengangguran terbuka (TPT) antara lain dengan menumbuhkan dan memberdayakan sektor informal,” ujarnya.
Amsakar menilai Gebyar UMKM Batam 2025 sangat penting sebagai wadah pemberdayaan pelaku usaha lokal dan peningkatan penjualan produk.
“Beberapa hari ke depan, pasti omset mereka jauh lebih baik ketimbang berjualan secara konvensional,” pungkasnya mengakhiri wawancara.


















