Hai Sahabat Ulasan. Mi instan memang sering menjadi pilihan favorit banyak orang karena terasa praktis dan lezat. Namun, seiring meningkatnya konsumsi makanan cepat saji.
Banyak yang akhirnya bertanya-tanya, berapa lama sebenarnya mi instan dicerna tubuh? Selain itu, berapa lama mi instan hancur di dalam perut?
Untuk menjawab hal tersebut, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi, Aru Ariadno, memberikan penjelasan penting. Menurutnya, konsumsi mi instan secara berlebihan bisa memicu berbagai gangguan kesehatan.
Baca Juga: Ikan Sidat Indonesia Ternyata Kalahkan Salmon sebagai Sumber Omega-3 Tertinggi
“Masalah yang paling sering muncul (akibat sering makan mi instan) seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obesitas, diabetes, gangguan pencernaan, hingga gangguan fungsi ginjal,” ujar Aru, dilansir dari laman CNN Indonesia.
Selanjutnya, efek negatif ini muncul karena mi instan mengandung kadar natrium, lemak jenuh, dan kalori yang tergolong tinggi. Sebaliknya, mi instan justru minim kandungan penting seperti serat, vitamin, mineral, dan protein yang sangat dibutuhkan tubuh.
Berapa Lama Mi Instan Dicerna?
Proses pencernaan mi instan ternyata berbeda dibandingkan jenis mi lainnya. Mi instan membutuhkan waktu lebih lama untuk hancur di sistem pencernaan, sehingga tubuh cenderung memprosesnya lebih lambat dibandingkan makanan sejenis.
Biasanya, mi instan dapat bertahan sekitar 3–5 jam di lambung sebelum masuk ke tahap pencernaan berikutnya. Pada beberapa orang, proses pencernaan mi instan bahkan bisa berlangsung hingga 1–2 hari sebelum akhirnya keluar dari tubuh.
Menurut Aru, waktu pencernaan yang cukup lama ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, proses penggorengan dalam pembuatan mi instan membuat kandungannya lebih tinggi lemak. Karena itu, lemak jenuh tersebut memperlambat pergerakan makanan di lambung.
Baca Juga: Minum Kopi Pagi Hari Disebut Bisa Turunkan Risiko Kematian, Benarkah? Ini Kata Peneliti
Selain itu, penggunaan bahan tambahan seperti pengawet juga berperan memperlambat penghancuran mi instan di saluran cerna.
Pengawet membuat tekstur mi menjadi lebih keras dan tidak mudah terurai. Berbeda dengan itu, mi segar atau mi tanpa pengawet akan lebih cepat hancur dan mudah dicerna tubuh.
Terakhir, rendahnya kandungan serat pada mi instan turut memperlambat pergerakan usus. Dengan kadar serat yang minim, makanan akhirnya berada lebih lama di dalam saluran pencernaan.
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















