Campuran Amonia Pada Cakwe, Apakah Berbahaya?

Cakwe
Salah satu pedagang cakwe di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. (Foto: Boston CH)

Hai sahabat Ulasan, liputan kali ini cukup menarik lho. Cakwe? Pernah dengar nama itu?

Cakwe bukan nama tokoh atau tumbuhan populer, melainkan nama makanan yang cukup banyak peminatnya.

Kue atau roti kering ini berasal China, dan sejak dahulu banyak dijual di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Provinsi Kepulauan Riau.

Beberapa hari terakhir, sejumlah orang tidak mau lagi membeli dan mengonsumsi cakwe. Apalagi aroma cakwe cukup tajam sehingga menambah kewaspadaan konsumennya.

Isu amonia dicampur dalam adonan tepung untuk membuat cakwe menjadi alasan para konsumen berhenti membeli cakwe. Mereka khawatir amonia elemental atau klorofluorokarbon (freon) dapat membahayakan kesehatan.

Sebanyak 20 cakwe yang dibeli oleh seseorang di sebuah warung di Tanjungpinang pun hanya disentuh oleh satu orang yang merasa yakin cakwe yang dibelinya tidak akan mengganggu kesehatannya.

“Kalau berbahaya, pasti sudah ditutup pemerintah,” ucap Deri, warga Tanjungpinang yang setiap pekan mengonsumsi cakwe.

Isu bahaya mengonsumsi cakwe sampai ke telinga Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Rustam. Ia segera menurunkan tim untuk mendalami permasalahan itu.

Beberapa jam kemudian Rustam menginformasikan bahwa amonia yang dicampur ke dalam adonan tepung untuk membuat cakwe berbeda dengan freon.

Baca juga: Festival Kue Bulan 2025 di Karimun: Sarat Makna Persatuan dan Persaudaraan

Amonia yang digunakan sebagai bahan campuran kue disebut ammonium bikarbonat atau amonium karbonat. Ini merupakan bahan pengembang kimia yang digunakan dalam pembuatan kue kering, biskuit, dan makanan ringan lainnya untuk menciptakan tekstur yang renyah dan ringan seperti cakwe.

“Tidak masalah mengonsumsi cakwe. Saya pun menyukainya,” kata Rustam. (*)