Cerita 15 Tahun Mang Anton dengan Tobukasnya

Tobukas Mang Anton di Komplek Sakura Anpan, Batam. (Foto:Muhammad Ishlahuddin/Ulasan.co)

Mang Anton, biasa orang memanggilnya demikian. Badannya kurus, rambutnya lurus berantakan, mungkin belum ia sisir. Ia tak pernah menjawab saat kutanya berapa usianya.

“Orang jadi besar karena keajaiban. Orang kalau jalan pasti ada peluang,” ucapan Mang Antong yang pertama kutangkap, saat obrolan selepas maghrib, Jumat, (15/07/2022).

Ia penjual buku bekas. Toko buku  itu iya beri nama Tobukas, sebuah akronim dari Toku Buku Bekas. Berbagai buku bekas ia jual di sana, komik, novel, pelajaran sekolah, kumpulan soal-soal Ujian Nasional, politik, hingga sastra.

Tobukas ini terletak di Komplek Sakura Anpan, tepatnya di kawsan bisnis Nagoya. Ruangannya tak besar, dan ukurannya kurang lebih empat kali empat meter. Ia terletak di antara toko ponsel di sebelah kanannya dan warung makan di sebelah kirinya.

Kurang lebih 15 tahun sudah Tobukas Mang Anton bediri. Dulunya tempat tersebut merupakan tempat penyewaan komik di awal tahun 2000-an. Mang Anton sempat menjadi karyawan di penyewaan komik tersebut tahun 2005. Pemilik toko memperkerjakannya karena saking seringnya ia menyewa komik di sana.

Dua tahun bekerja, 2007 tempat penyewaan komik itu tutup. Pemilik toko membawa semua bukunya dan ruko itu pun dibiarkan kosong selama sebulan. Pemilik ruko lalu menghubungi Mang Anton dan memintanya untuk mengisi ruko itu agar tak kosong. Namun, ia tak menyanggupinya karena tak memiliki modal.

“Tapi saya malah ditawarin modal sama bapak kos (pemilik ruko), yaudah saya jalan aja dulu,” kata pria bernama asli Yunarton ini.

Saat itu, Mang Anton dibekali modal Rp5 juta oleh si pemilik ruko. Menurutnya uang segitu sangat kecil untuk mengisi toko yang besar. Namun, uang yang sangat pas-pasan tersebut mengajarkan sebuah kepasarahan padanya.

Suatu hari, ada seorang wanita menawarkannya sebuah buku bekas dengan harga Rp3 juta. Tapi saat itu uang yang tersisa di kantongnya hanya Rp1 juta. “Saya pasrah aja, saya bilang ke dia uang cuma ada sejuta. Tapi dia malah bilang yaudah tak mengapa satu juta saja,” katanya bercerita dengan penuh semangat.

Pernah sekali waktu, dia antara tahun 2008 atau 2009, ia tak begitu mengingatnya dengan pasti. Seorang menghadiahinya tumpukan buku bekas yang banyak. Menurut ceritanya, orang tersebut saat itu membeli sebuah ruko dan mendapati buku bekas yang banyak di dalamnya. Si pembeli ruko bingung mau dikemanakan buku-buku itu, sayang rasanya jika hanya dibuang.

“Dia (pembeli ruko) datang ke sini, ditawarinya buku, uang waktu itu cuma Rp50 ribu di dompet. Saya bilang takada duit. Terus dia bilang ‘saya mau kasih saja bukan mau jual. “Saat dibuka bagasinya, isinya buku semua, sampai jatuh-jatuh saking penuhnya,” katanya dengan penuh tawa.

Sejak saat itu, Mang Anton merubah konsep toko tersebut dari penyewaan jadi penjualan buku bekas.

Wajah Mang Anton. (Foto:Muhammad Ishlahuddin/Ulasan.co)

Merasa Berdosa Jual Mahal

“Kalau buku-buku ini saya jual mahal, berdosa rasanya. Saya saja mendapatkan ini dengan murah,” kata Mang Anton dalam lanjutan obrolan malam itu.
Buku di Tobukas itu ia jual bervariasi, ada yang Rp10 ribu ada juga yang Rp50 ribu. Bahkan tak jarang, ia juga memberi bonus jika ada yang memborong bukunya.

“Saya itu begini, kalau dia lemah lembut belinya, kukasih bonus. Ini (buku) juga ada karena kebaikan orang. Tapi mohon maaf, kalau ada yang datang ngejek duluan, misal ibu-ibu ‘ini kok mahal,’ saya lebih keras kepala. Takakan mau saya turunkan harga,” katanya dengan nada sedikit kesal.

Bertahan di Era Digitalisasi

Toko buku bekas satu-satunya di Batam ini bertahan di era digitaliasai. Di mana kita bisa mengakses bacaan apapun melalui ponsel pintar di tangan kita. Namun, hal itu tak membuat Mang Anton patah arah. “Semenjak ada hp murah sekarang peminat buku semakin susah, sampai saya haru putar otak sampai ada pemasukan. Sekarang saya jadi jual online juga,” katanya dengan nada lirih.

Pada 2014 sampai 2018 ia pernah merasakan pemasukan yang benar-benar berkurang. Jauh dari apa yang dia dapat. Namun, sekarang perlahan sudah mulai normal lagi. “Pendapatan selalu ada, kalau dibangdikan UMK masih adalah,” katanya.

Belasan tahun menekuni penjualan buku bekas ini, tentu ada suka duka di dalamnya. Menurutnya hal yang paling terasa kala jatuh tanggal bayar sewa, tapi ia belum dapat uang. “Kadang itu susahnya, tapi ya ada aja, kita bisa nego dulu dikasih waktu baru bayar. Saya bertahan di sini juga karena kemanusiaan,” kata Mang Anton dengan wajah lesu.

Dulu saat awal buka, menurutnya, masyarakat cenderung menyukai komik, bahkan setiap hari Minggu tokonya banyak dikunjugi orang mencari komik.
“Semenjak ada aplikasi komik sudah turun, malah yang bertahan novel sama buku-buku serius. Komik malah yang jatuh,” kata dia.

Tempat Diskusi dan Berbagi Cerita

Tobukas Mang Anton tak jarang digunakan para remaja penggiat literasi untuk mengadakan diskusi. Sebelum pandemi, setiap dua pekan sekali, Sabtu malam, puluhan remaja berdiskusi buku di sana.

Mang Anton senang dengan kegiatan itu. Ia merasa bahagia setiap kali remaja-remaja itu saling adu argumen mengenai buku-buku yang mereka diskusikan. “Bahagia itu sederhana, bisa kita ciptakan sendiri, dan aku bisa berkreasi. Aku merasa berada di duniaku yang sebenarnya ketika kalian diskusi,” katanya.

Mang Anton juga senang dengan beberapa orang yang sering mengunjunginya, untuk sekadar bercerita atau berdiskusi ringan dengannya. “Setiap hari ada aja yang main ke sini, duduk, saling berbagi cerita, kadang juga berbagi kopi dan rokok,” kata dia dengan tawa.

Sebelum mengakhiri obrolan malam itu, Mang Anton berpesan untuk meningkatlan minat baca. “Anak muda minat membacanya lebih ditingkatkan, bagaimana pun dengan membaca lebih memperkaya batin, pengetahun dan pemaparan isinya bisa dipertanggung jawabkan, juga untuk pembentukan karakter.”