BATAM – Menjelang akhir 2025 hingga memasuki awal 2026, Pemerintah Kota Batam kembali mengeluarkan peringatan serius terkait potensi cuaca ekstrem.
Kondisi cuaca yang tidak menentu dinilai bukan hanya memicu banjir dan angin kencang. Tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit musiman yang kini mulai mengintai masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi selalu berdampak langsung pada meningkatnya penyakit infeksi.
Dengan demikian, masyarakat diminta lebih waspada terhadap masalah kesehatan yang biasanya muncul pada musim penghujan.
Baca Juga: Begini Kondisi Galangan PT Tiger Trans yang Disorot dalam Kasus Dugaan Penipuan Kapal Irfan Jaya 9
“Saat cuaca ekstrem, masyarakat perlu waspada terhadap ISPA, diare, demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis. Hingga infeksi kulit akibat lingkungan yang lembap dan air yang tercemar,” ujarnya dalam wawancara pada Kamis 4 November 2025.
Menurut Didi, kualitas air bersih sering kali menurun ketika wilayah dilanda hujan intens dan banjir. Oleh sebab itu, risiko penularan penyakit saluran cerna pun semakin tinggi.
Selain itu, ia menambahkan bahwa jalan yang licin, angin kencang, dan kabel listrik yang terendam berpotensi menimbulkan cedera bagi warga.
“Sementara kelompok rentan seperti balita, lansia, dan ibu hamil lebih mudah sakit pada kondisi cuaca yang tidak stabil,” katanya menambahkan.
Ketika ditanya soal tren peningkatan penyakit seperti ISPA, diare, dan DBD, Didi membenarkan bahwa kasus-kasus tersebut memang naik signifikan.
“Iya, karena semuanya sangat berhubungan dengan musim hujan,” katanya menyampaikan.
Baca Juga: PLN Batam Siap Lanjutkan Kembali Kolaborasi dengan PFI Kepri
Tak hanya itu, Didi juga memaparkan data kesehatan terbaru yang dihimpun dari berbagai fasilitas kesehatan di Batam sepanjang September hingga November 2025.
Berdasarkan data tersebut, penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) khususnya common cold masih menduduki posisi teratas.
Pada September 2025, hipertensi, ISPA, dan common cold mendominasi daftar kunjungan pasien, dengan total 6.081 kasus hipertensi dan 4.577 kasus common cold.
Selanjutnya pada Oktober 2025, kasus common cold melonjak tajam menjadi 7.327 kasus, sementara hipertensi naik menjadi 6.507 kasus dan infeksi saluran napas atas lainnya tercatat mencapai 5.721 kasus.
Kemudian pada November 2025, hipertensi kembali menjadi penyakit dengan jumlah kasus terbanyak yakni 6.136 kasus, diikuti common cold sebanyak 5.611 kasus, dan ISPA kelompok J06 dengan 4.099 kasus.
Melihat kondisi ini, Dinkes Batam kembali mengimbau masyarakat agar terus menjaga kebersihan lingkungan, memastikan ketersediaan air bersih, dan menghindari genangan air untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala demam, batuk, atau diare.*
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















