Cut and Fill di Bengkong Palapa Diduga Ilegal, Legislator Minta BP Batam Bertindak

Warga terdampak menunjukkan lahan atau tebing yang dipotong. (Foto: Elhadif Putra)

BATAM – Warga terdampak lahan cut and fill di Kavling Murni, Bengkong Palapa, RT 06 RW 06, Kelurahan Tanjung Buntung, Kecamatan Bengkong, membuat laporan ke Badan Pengusahaan (BP) Batam, Selasa 16 September 2025.

Lurah Tanjung Buntung, Edi Supardi yang dikonfirmasi mengatakan permasalahan lahan merupakan kewenangan dari BP Batam.

“Jam 10 ini rencananya warga membuat laporan,” kata Edi.

Edi menyebutkan, dari hasil pemeriksaan pihaknya, warga yang berdomisili di atas tebing kegiatan cut and fill memiliki sertifikat resmi. Sementara pihak yang melakukan kegiatan cut and fill di Bengkong Palapa itu tidak dapat menunjukkan dokumen sah.

Kendati demikian, lanjut Edi, warga sebenarnya hanya meminta pihak yang melaksanakan kegiatan pemotongan tebing untuk membangun baru miring, lantaran mengkhawatirkan rumah mereka ambruk.

Sebelumnya, pihak yang melakukan pemotongan menyatakan akan membangun batu miring hingga ke bagian atas tebing.

“Tapi ternyata sudah 10 hari ternyata tidak juga dibangun. Tingginya sekitar delapan sampai 10 meter,” sambung Edi.

Anggota DPRD Batam, Ruslan Sinaga yang juga mendatangi lahan tersebut meminta BP Batam dapat menindaklanjuti permasalahan lahan tersebut.

“BP Batam harus turun. Ini harus dilaporkan karena tidak bisa lagi,” katanya.

Ruslan mengaku emosi lantaran pihak yang melakukan pemotongan sebelumnya menyanggupi untuk membangun batu miring sebagaimana permintaan warga.

“Saya datang pertama kali 10 hari yang lalu melakukan mediasi, dan kontraktor mengatakan mereka bisa. Tapi sampai sekarang belum dilaksanakan,” ujarnya.

Legislator dari fraksi Hanura juga meminta seluruh kegiatan pembangunan yang ada di lahan tersebut dihentikan karena menyangkut keselamatan warga.

“Jangan sembarangan melakukan pemotongan tanpa memikirkan keselamatan warga,” tegas Ruslan.

Sebelumnya, seorang warga, Ramdor Rosmerida Sitompul menghawatirkan rumahnya yang berada di atas tebing dekat kegiatan cut and fill bisa ambruk atau roboh. Pasalnya, rumah Ramdor dan pinggiran tanah yang telah dipotong hanya berjarak beberapa jengkal saja.

Kondisi lahan yang dipotong sebenarnya telah dibangun batu miring. Namun ketinggiannya hanya setengah dari keseluruhan tebing yang dipotong.

“Kita gak nyaman. Cuaca sekarang ini juga musim hujan,” katanya.

Ramdor menyebutkan permasalahan tersebut sebelumnya telah dibicarakan dengan pemilik lahan.

Tapi kegiatan pemotongan tanah tebing itu terus dilakukan hingga membuatnya resah karena terus mendekat ke rumahnya.

“Yang punya tanah kalau di depan orang banyak, dia siap-siap saja. Tapi setelah dikeruk pakai beko (alat berat), lama-kelamaan diambil lagi dengan tangan,” ungkapnya.