Dikabarkan Tenggelam, KSOP Kijang: Kapal Newsun Harmony Kandas di Perairan Utara Mapur Bintan

Kapal berukuran besar sedang nyandar di pelabuhan PT BAI, Bintan, Kepri. (Foto: Andri Dwi Sasmito)
Kapal berukuran besar sedang nyandar di pelabuhan PT BAI, Bintan, Kepri. (Foto: Andri Dwi Sasmito)

BINTAN – Sebuah kapal kargo bermuatan aluminum milik PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) sempat dikabarkan tenggelam di perairan Mapur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri).

Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh Kepala KSOP Kelas III Kijang, Juanda Silaen, saat dikonfirmasi pada Jumat, 12 Desember 2025.

“Kalau tenggelam, saya baru dapat kabar ini. Kalau (kapal) kandas, ada,” kata Juanda Silaen.

Baca Juga: Satgas Pangan Bintan Cek Ketersediaan Pasokan Kebutuhan Pokok di Pasar, Jelang Nataru Makin Kritis?

Menurut Juanda, informasi dari pihak PT BAI menyebutkan bahwa kapal kargo Newsun Harmony yang membawa aluminum folder ternyata kandas di perairan utara Mapur, mengarah ke Laut Cina Selatan.

Ia menjelaskan bahwa kapal tersebut keluar dari dermaga PT BAI pada Kamis, 10 Desember 2025, sekitar pukul 23.30 WIB.

“Kapal itu sudah keluar dari PT BAI pada tanggal 10 sekitar jam 23.30 WIB. Besok pagi diberitahukan ke kami,” kata dia.

Meski demikian, ia mengaku belum dapat memastikan sejauh mana kerusakan yang dialami kapal berbendera tujuan Korea itu. Ia menyebutkan bahwa hingga kini petugas belum bisa mendekat karena cuaca ekstrem yang melanda perairan Bintan.

“Kita tidak berani merapat ke sana (kapal kandas). Karena cuaca buruk,” terang dia.

Baca Juga: Cuaca Ekstrim, KSOP Kelas III Kijang Minta Jasa Pelayaran Pantau Update Cuaca BMKG

Berdasarkan laporan awal, kapal Newsun Harmony mengalami kebocoran pada bagian haluan saat berlayar. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, pihak KSOP masih menunggu laporan resmi dari tim salvage.

“Kita menunggu laporan salvage. Ini belum ada laporan salvage,” tambahnya.

Di akhir pernyataan, Juanda mengimbau seluruh jasa transportasi laut untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama karena cuaca ekstrem masih berpotensi mengancam aktivitas pelayaran.

“Kondisi saat ini, kita tetap lebih waspada,” sebut dia mengakhiri.

Ikuti Berita Ulasan.co di Google News