TANJUNGPINANG — Dalam upaya memperkuat deteksi dini penyakit menular dan tidak menular di Kota Tanjungpinang, Dinas Kesehatan bersama Polresta Tanjungpinang serta fasilitas pelayanan kesehatan melaksanakan kegiatan pemeriksaan rontgen paru, skrining Penyakit Tidak Menular (PTM), serta skrining Tuberkulosis (TB) di Polresta Tanjungpinang.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan penemuan kasus secara aktif, sekaligus mendukung percepatan eliminasi TBC di Kota Tanjungpinang. Masyarakat diberikan layanan pemeriksaan menyeluruh yang meliputi:
- Rontgen paru untuk mendeteksi dini indikasi penyakit pernapasan, termasuk dugaan TB.
- Skrining PTM, meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan faktor risiko lainnya.
- Skrining gejala dan faktor risiko TB, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini. Sebanyak 123 orang berhasil discreening, terdiri dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Pemeriksaan ini juga menjadi sarana edukasi langsung mengenai pentingnya deteksi dini, gaya hidup sehat, serta upaya pencegahan penularan penyakit.
Baca Juga: Waspada! Maraknya Penipuan Berkedok Pelayanan KTP Digital
Kegiatan berjalan lancar dan mendapat respons positif dari peserta. Hasil pemeriksaan yang memerlukan tindak lanjut akan dipantau oleh petugas kesehatan, dan masyarakat yang berisiko tinggi akan diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan sesuai standar nasional.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan kesehatan paru-paru, pencegahan TB, serta pentingnya kontrol rutin PTM guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Tanjungpinang.
Kabut yang Diam-Diam Mengancam
Kabut pagi memang tampak tenang, namun di balik itu tersimpan ancaman penyakit yang merusak paru dan mudah menular: Tuberkulosis (TBC). Karena itu, masyarakat Tanjungpinang diajak ikut mengungkap “jejak kabut” tersebut melalui deteksi dini dan pengobatan tuntas.
Menurut laporan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia berada di posisi kedua dunia dengan estimasi 1,09 juta kasus TBC dan 125 ribu kematian per tahun. Bahkan, satu dari empat penderita TB belum terdiagnosis. Dengan kata lain, banyak kasus tersembunyi yang masih berkeliaran di lingkungan sekitar.
Target Nasional: Indonesia Bebas TBC Tahun 2030
Dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021, pemerintah menegaskan bahwa penanggulangan TBC harus melibatkan lintas sektor. Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2016 mengamanatkan pemerintah daerah menyusun rencana aksi daerah (RAD) eliminasi TBC.
Meski demikian, berbagai tantangan masih muncul, mulai dari rendahnya cakupan deteksi dini, keterbatasan pengobatan yang belum menjangkau semua pasien, hingga meningkatnya TBC resistan obat (TBC RO). Di sisi lain, pembiayaan program sebagian besar masih mengandalkan bantuan luar negeri. Pandemi COVID-19 pun memperlambat skrining dan pengobatan selama beberapa tahun terakhir.
Pemerintah terus menegaskan strategi TOSS-TB (Temukan, Obati Sampai Sembuh), yang fokus menemukan kasus aktif sejak dini, meningkatkan kepatuhan pengobatan, dan mencegah penularan di masyarakat.
Perkembangan di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau
Provinsi Kepulauan Riau kini mulai mempercepat upaya penuntasan TBC melalui penambahan ribuan cartridge untuk pemeriksaan TCM, penguatan kader kesehatan, serta kewajiban skrining rutin bagi ASN dan tenaga kerja setiap enam bulan.
Di Tanjungpinang, serangkaian skrining TBC dengan metode X-Ray menggunakan Mobile Rontgen Medilab Batam telah dilakukan sejak 23 Oktober. Pelaksanaan skrining menyasar kelompok pekerja industri, kampus, pasar, penjaja makanan, SPPG, perkantoran, TNI/Polri, swalayan, perhotelan, pelabuhan, masyarakat umum, hingga berbagai event besar.
Hingga 2 Desember 2025, sebanyak 3.473 orang menjalani skrining. Dari jumlah tersebut, 1.747 orang menunjukkan gejala dan langsung menjalani pemeriksaan dahak menggunakan mesin Test Cepat Molekuler (TCM) GeneXpert. Hasilnya, 12 orang dinyatakan positif TBC. Meski prevalensinya 0,68 persen, temuan ini menegaskan adanya kasus tersembunyi yang selama ini belum terdeteksi optimal.
Efektivitas Skrining X-Ray: Tiga Temuan Utama
Metode X-Ray terbukti efektif menjaring kasus TBC baru melalui tiga kategori temuan:
- Sugestif — Dokter melihat indikasi abnormalitas paru yang kemudian dikonsultasikan ke radiologi untuk pembacaan lebih teliti.
- X-Ray Gambaran TBC — Hasil rontgen menunjukkan gambaran TBC paru yang memenuhi kriteria TBC klinis, sehingga dapat segera diobati.
- X-Ray Suspek — Ditemukan gambaran bekas TBC atau dugaan TBC sehingga perlu pemeriksaan klinis lanjutan di puskesmas.
- Dari total 3.429 peserta skrining X-Ray, ditemukan 396 kasus sugestif, 63 gambaran TBC, dan 63 suspek.
Apa Makna “Mencari Jejak Kabut” Bagi Warga Tanjungpinang?
1.Deteksi Dini Sangat Penting
TBC tidak selalu diperlihatkan melalui gejala berat. Oleh karena itu, masyarakat harus segera memeriksakan diri bila mengalami batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, atau kelelahan tanpa sebab jelas.
2. Skrining Massal & Berkala
Dengan dukungan Pemprov Kepri, skrining cepat seperti TCM bisa diperluas untuk menjangkau mereka yang sulit mengakses fasilitas kesehatan besar.
3. Peran Komunitas Sangat Dibutuhkan
Penanganan TBC bukan hanya tugas tenaga kesehatan. Komunitas memiliki peran dalam edukasi, pendampingan minum obat, dan mengurangi stigma.
4. Pengobatan Harus Tuntas
Pasien positif TBC wajib mengikuti pengobatan hingga selesai. Pendekatan TOSS-TB memastikan pasien sembuh dan tidak lagi menularkan penyakit.
Mengapa Jejak Kabut Harus Segera Diungkap?
Jika tidak ditangani cepat, TBC dapat menyebar secara diam-diam dan membebani keluarga maupun sistem kesehatan. Namun, dengan dukungan teknologi skrining modern, komitmen pemerintah, serta kepedulian masyarakat, rantai penularan dapat diputus.


















