JAKARTA – Penangkapan aktor intelektual penyelundupan dua ton sabu, Paryatin alias Dewi Astutik, akhirnya terungkap ke publik.
Melalui operasi lintas negara yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Kepolisian Kamboja dan sejumlah instansi lainnya, Dewi diketahui sempat bekerja di tempat scamming sebelum banting setir terjun ke jaringan narkotika setelah bertemu seorang ‘godfather’ asal Nigeria.
Penangkapan Dewi Astutik berlangsung di Sihanoukville, Kamboja, melalui operasi senyap yang melibatkan BNN, polisi Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, BAIS TNI, serta Ditjen Bea dan Cukai. Operasi ini dilakukan untuk menindaklanjuti pelariannya dalam kasus penyelundupan sabu senilai Rp 5 triliun.
Baca Juga: Dewi Astutik Jadi Bandar Sabu Setelah Kenal ‘Godfather’ WN Nigeria di Kamboja
Operasi pengejaran dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan. Aksi ini merupakan tindak lanjut langsung dari perintah Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, yang sebelumnya memerintahkan pembentukan tim khusus untuk memburu Dewi di luar negeri.
Dewi, yang juga menjadi buronan Korea Selatan, ditangkap ketika menuju lobi hotel di Sihanoukville. Operasi tersebut berlangsung cepat, presisi, dan tanpa menarik perhatian publik.
Dalam penangkapan itu, aparat juga mengamankan seorang pria Pakistan berinisial AH yang diduga merupakan kekasih Dewi. Setelah itu, Dewi dipindahkan ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan antarlembaga.
Selain itu, Atase Pertahanan RI di Kamboja serta BAIS TNI berperan penting dalam pemetaan pergerakan lintas negara Dewi, sehingga operasi dapat berjalan mulus.
Proses diplomasi hingga pemenuhan legalitas pemulangan juga difasilitasi oleh Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, bersama jajaran KBRI Phnom Penh. Di sisi lain, Wakil Kepala Kepolisian Nasional Kamboja, Chuon Narin, turut memberikan dukungan penuh dalam penangkapan Dewi.
Baca Juga: BNN Dalami Pria Bareng Dewi Astutik saat Ditangkap di Kamboja, Beirkut Fakta Penangkapan Gembong Narkoba Rp 5 Triliun
Kepala BNN RI Komjen Suyudi pun mengapresiasi keberhasilan operasi tersebut.
“Keberhasilan ini tentunya menegaskan komitmen BNN RI dalam mengejar pelaku kejahatan narkotika hingga ke luar negeri. Melalui sinergitas yang kuat antar lembaga negara maupun kepolisian negara sahabat,” kata Suyudi.
Setelah tiba di Indonesia, Dewi langsung diperiksa secara intensif untuk mengungkap aliran pendanaan, logistik, dan aktor-aktor lain yang terlibat dalam jaringan internasional tersebut.
Jejaring itu diketahui aktif menyalurkan kokain, sabu, hingga ketamin ke berbagai negara di Asia Timur dan Asia Tenggara.
Pernah Jadi Guru Bahasa Inggris dan Mandarin
BNN mengungkap bahwa sebelum terlibat jaringan narkoba, Dewi sempat bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris dan Mandarin di Kamboja dengan penghasilan sekitar Rp 20 juta per bulan.
“Hasil pendalaman lanjutan, sebelumnya yang bersangkutan di Kamboja kerja di beberapa tempat kursus bahasa Inggris dan Mandarin sebagai pengajar. Per bulan pendapatan kurang lebih Rp 20 juta,” kata Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto saat dihubungi, Kamis (4/12/2025).
Kerap Berpindah Negara Selama Pelarian
Menurut Suyudi, Dewi dikenal licin dan sering berpindah negara untuk menghindari kejaran aparat. Ia merupakan salah satu WNI yang mengendalikan narkotika dari kawasan Golden Triangle selain Fredy Pratama.
“Tentunya kesulitannya karena yang bersangkutan ini, satu, dia adalah bagian dari jaringan internasional yang selama ini pindah dari negara satu, ke negara lain,” ujar Suyudi dalam jumpa pers di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (2/12).
Ia menjelaskan bahwa BNN menerima informasi mengenai keberadaan Dewi di Phnom Penh pada 17 November. Tim pun segera diterjunkan untuk melakukan penangkapan.
“Pada saat yang bersangkutan berada di negara Kamboja, kita dengan kerja sama yang tadi saya sampaikan, bisa menemukan titik yang bersangkutan sehingga kita lakukan penangkapan dengan kolaboratif antara negara Indonesia dan pemerintah Kamboja,” jelasnya.
Awal Pertemuan dengan ‘Godfather’ Nigeria
Dari hasil pendalaman, Dewi diketahui pertama kali datang ke Kamboja pada Februari 2023 dan bekerja di sebuah tempat scamming. Namun, hidupnya berubah drastis setelah bertemu seorang warga Nigeria berinisial DON, yang disebut sebagai ‘godfather’.
“Singkat cerita, bertemu orang Nigeria yang sudah jadi buronan, inisial DON. DON inilah yang menjadi caretaker dan godfather PAR alias DA selama di Kamboja. Karena di Kamboja PAR merasa bisa kendalikan semua jaringan dengan uang,” kata Suyudi.
Dewi dan DON kemudian membangun bisnis narkotika lintas benua sejak awal 2024, melibatkan kawasan Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.
“Kejahatan narkotika lintas negara, Asia, Afrika, Amerika Latin. Pol kerja antara Don dan DA, DA yang suplai dan atur kurir. DON yang suplai barang narkotika ke Dewi, Dewi siapkan pengemasan barangnya, DON yang membiayai jaringan melalui Dewi,” tambahnya.
Saat ini, DON telah ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat karena berstatus buronan Drug Enforcement Administration (DEA).
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















