TANJUNGPINANG – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), H. Ansar Ahmad, menyampaikan apresiasi atas dukungan Country Coordinating Mechanism (CCM) Indonesia dalam memperkuat sistem kesehatan di daerah, khususnya dalam upaya penanggulangan penyakit menular seperti AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria.
Apresiasi tersebut disampaikan saat menerima kunjungan Field Oversight Visit (FOV) Tim Technical Working Group (TWG) Resilient and Sustainable System for Health (RSSH) CCM Indonesia di Ruang Rapat Utama, Kantor Gubernur Kepri, Senin 3 November 2025.
Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria (ATM) yang mendapat dukungan dari Global Fund. Selain Kepri, kegiatan serupa juga dilakukan di Aceh, DKI Jakarta, dan Maluku.

Ansar menegaskan komitmen Pemprov Kepri untuk terus memperkuat sektor kesehatan sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045.
“Untuk mewujudkan Indonesia Emas, kesehatan menjadi salah satu pilar utama selain pendidikan dan ekonomi. Masyarakat yang sehat akan melahirkan generasi produktif dan berdaya saing,” ujarnya.

Berdasarkan data tahun 2025, Kepri mencatat 249 kasus AIDS, 5.298 kasus TBC, dan 379 kasus malaria. Ansar menekankan pentingnya sinergi lintas sektor serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan mitra internasional.
“Kegiatan seperti ini sangat penting agar upaya pemberantasan AIDS, TBC, dan malaria terus berjalan efektif. Kami berharap CCM Indonesia terus mendampingi Kepri untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Perkuat Kemandirian Daerah Hadapi Transisi Pendanaan
Ketua TWG RSSH CCM Indonesia, *Prof. Dr. drg. Wahyu Sultiadi, menjelaskan bahwa kunjungan lapangan bertujuan memastikan program hibah Global Fund berjalan efektif, transparan, dan berkelanjutan.
“Komponen RSSH merupakan upaya membangun ketahanan dan keberlanjutan sistem kesehatan. Indonesia telah menerima dukungan *Global Fund* selama 22 tahun, dan kini memasuki ronde ketujuh yang akan berakhir tahun depan,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia kini memasuki tahap penting: menyiapkan kemandirian daerah melalui strategi Sustainability Transition and Co-Financing (STC).
“Ke depan, pendanaan harus mulai bergeser ke APBN, APBD, dan sumber lokal agar program tetap berjalan tanpa ketergantungan penuh pada bantuan internasional,” katanya.
Prof. Wahyu menilai Kepri memiliki posisi strategis dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular karena merupakan wilayah kepulauan dengan mobilitas tinggi serta pintu gerbang pariwisata dan perdagangan internasional.
Baca juga: Gubernur Ansar: Paritrana Award 2025 Bukti Nyata Kepedulian Daerah terhadap Pekerja
Sekilas tentang Country Coordinating Mechanism (CCM) Indonesia merupakan lembaga nasional yang berperan mengoordinasikan penerimaan dan pelaksanaan dana Global Fund untuk program AIDS, TBC, dan malaria.
Sementara Technical Working Group (TWG) RSSH bertugas memberikan dukungan teknis, pengawasan, serta memastikan adanya strategi transisi pendanaan agar sistem kesehatan daerah tetap berdaya tahan dan mandiri. (*)


















