TANJUNGPINANG – Pemerintah Pusat melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) akhirnya menyetujui permintaan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) H. Ansar Ahmad untuk menambah pasokan beras guna menjaga stabilitas pangan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Bapanas menugaskan Perum Bulog mengalokasikan 4.000 ton beras premium dari Sulawesi untuk didistribusikan ke seluruh wilayah Kepri.
Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Gubernur Ansar bersama Bapanas, Bulog, dan Kapolda Kepri di Jakarta pada 10 November 2025 lalu. Gubernur Ansar didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan Kepri, Rika Azmi.
“Kita menyambut baik langkah Bapanas ini. Tambahan pasokan beras premium ini sangat penting untuk menjaga ketersediaan pangan di Kepri menjelang Nataru, terutama mengantisipasi cuaca buruk dan tingginya permintaan masyarakat,” ujar Gubernur Ansar di Tanjungpinang, Kamis 27 November 2025.

Gubernur Ansar juga menegaskan agar Bulog segera mempercepat proses distribusi ke seluruh kabupaten/kota di Kepri.
“Beras ini harus segera dikirimkan dan sampai ke daerah-daerah, agar stok aman dan harga terjaga,” ujarnya.

Jaga Stabilitas Harga dan Antisipasi Cuaca Ekstrem
Dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kepri belum lama ini, Gubernur Ansar menekankan pentingnya langkah preventif menghadapi potensi tekanan harga jelang akhir tahun.
Beberapa komoditas yang menjadi perhatian antara lain cabai merah, beras, ikan selar, minyak goreng, telur, dan ayam ras.

Ansar meminta OPD teknis memperbarui neraca pangan, memperkuat koordinasi antarinstansi, dan menjaga kelancaran jalur distribusi.
“Inflasi Kepri pada Oktober 2025 tercatat 0,36 persen (mtm) dan 3,01 persen (yoy), masih dalam target nasional. Namun kita harus waspada terhadap lonjakan permintaan dan dampak cuaca ekstrem di wilayah kepulauan,” ujarnya.
Baca juga: Gubernur Ansar Perketat Pengendalian Inflasi Jaga Stabilitas Harga Jelang Nataru di Kepri
Kepala BPS Kepri, Margaretha Ari Anggorowati, optimistis inflasi jelang dan saat Nataru dapat dijaga di bawah 3,5 persen. Ia menyebut program pengendalian harga berjalan efektif, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbukti tidak menimbulkan gejolak harga pasar. (*)

















