Hai Sahabat Ulasan. Di era digital seperti sekarang, pembayaran menggunakan QRIS sudah menjadi hal yang sangat umum. Mulai dari pedagang kaki lima hingga pusat perbelanjaan besar, semuanya kini memanfaatkan metode transaksi tanpa uang tunai tersebut.
Namun, di balik kemudahan itu, masyarakat perlu waspada terhadap modus penipuan baru yang menggunakan QRIS palsu. Dalam modus ini, pelaku kejahatan membuat kode QR yang tampak mirip dengan milik pedagang asli, lengkap dengan nama toko, jenis barang, dan nominal transaksi.
Baca Juga: Waspada! Modus Baru Penipuan Lewat QRIS, Sekali Scan Uang di Rekening Raib
Akibatnya, korban bisa saja tidak menyadari bahwa uang yang dikirim tidak masuk ke rekening pedagang, melainkan langsung ke akun penipu.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Fillianingsih Hendarta, menjelaskan bahwa pencegahan penipuan QRIS merupakan tanggung jawab bersama, baik dari sisi pedagang maupun konsumen.
Menurutnya, pedagang memiliki dua peran penting untuk mencegah terjadinya penipuan. Pertama, memastikan gambar QRIS pembayaran selalu berada di bawah pengawasan langsung. Kedua, memantau setiap proses transaksi, baik yang dilakukan melalui pemindaian kode QR maupun menggunakan mesin EDC.
Selain itu, pedagang juga disarankan untuk mengecek status setiap pembayaran yang masuk. Dengan begitu, mereka dapat memastikan bahwa notifikasi transaksi dari sistem QRIS benar-benar diterima.
Sementara itu, pembeli atau pengguna QRIS juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan transaksi. Mereka harus memastikan nama merchant yang muncul di layar sesuai dengan nama toko atau pihak yang dituju.
Baca Juga: Sepanjang 2025, Rp4,4 Triliun Transaksi di Kepri Berasal dari QRIS
“Namanya benar, jangan misalnya yayasan apa, tetapi namanya toko onderdil. Tidak pas,” jelas Fillianingsih.
Lebih lanjut, Fillianingsih menegaskan bahwa Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) terus melakukan pengawasan terhadap aktivitas transaksi QRIS.
“Di BI dan ASPI kita selalu melakukan pengawasan terhadap PJP QRIS dan terhadap perlindungan konsumen. Jadi itu tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan QRIS di berbagai sektor, kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital menjadi kunci utama untuk mencegah aksi kejahatan siber semacam ini.*
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















