Imlek Bawa Berkah, Nelayan Belakang Padang Batam Raup Untung Jualan Ikan Dingkis

Warga di Belakang Padang, Batam menjaring ikan dingkis untuk dijual. (Foto:Irvan Fanani/Ulasan.co)

BATAM – Momen perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina membawa berkah bagi warga di Pulau Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Pasalnya, sebagian besar warga yang bekerja sebagai nelayan di pulau tersebut memperoleh kentungan dari hasil berjualan ikan dingkis.

Ikan dingkis selalu menjadi perburuan setiap tahunnya, khususnya setiap perayaan Imlek dan sudah menjadi tradisi.

Nelayan setempat pun mulai berburu ikan dingkis, dengan cara memasang alat tangkap ikan (kelong) milik mereka.

Ikan dingkis menjadi tradisi sebagai sajian khas Imlek bagi masyarakat Tionghoa di Kepri. Ikan yang memiliki nama latin Siganus Canaliculatus ini dipercaya membawa keberutungan, jika disantap berasama keluarga saat perayaan Imlek.

Ahmad, salah satu nelayan Belakang Padang mengatakan, ikan dingkis di perairan Kepri hanya bertelur setahun sekali yakni menjelang perayaan Imlek. Di mana harga ikan dingkis saat momen Imlek sangat tinggi.

“Sekarang harganya sudah mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram. Sementara kalau hari biasa rata-rata Rp25 ribu sampai Rp45 ribu per kilogram,” ujar Ahmad, Jumat 9 Februari 2024.

Ahmad mengaku, dalam sehari kelong miliknya bisa menghasilkan 5 kilogram ikan dingkis. Ikan hasil tangkapannya kemudian akan dibeli oleh pengepul, untuk kemudian di jual kembali ke daerah-daerah di Kota Batam maupun ke negara Singapura.

“Kalau hari biasa tidak banyak yang cari ikan ini, jadi harganya beda jauh dibandingkan saat momen Imlek seperti sekarang,” ungkap Ahmad.

Sementara itu, Amusiri selaku pengepul ikan dingkis mengaku dalam sehari dirinya bisa mengumpulkan 50 kilogram hingga 10 kilogram ikan dingkis.

Amusiri mengaku dirinya dapat meraup keuntungan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram dari ikan dingkis yang dijualnya.

“Hari ini saya ambil dari kelong Rp200 ribuan lebih. Kalau dijual, biasanya sampai ke pembeli bisa Rp300 ribu sampai Rp400 ribuan,” kata Amusiri.

Camat Belakang Padang, Yudi Admajianto mengungkapkan, berburu ikan dingkis di wilayahnya sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun menjelang perayaan Imlek.

“Terutama di Kelurahan Kasu, Pecong dan Pemping. Pada saat musim ikan dingkis ini warga di sana pada memasang kelong untuk menangkap ikan dingkis,” ujar Yudi.

“Ini bisa dibilang rezeki tahunan bagi mereka. Karena saat momen Imlek ini harga ikan dingkis sangat tinggi, mereka bisa dapat untung banyak,” tambahnnya.

Yudi menambahkan, ikan dingkis hasil tangkapan kelong para nelayan tidak hanya dijual di Kota Batam saja, tetapi juga dijual ke Singapura.

“Untuk pangsa pasarnya tidak hanya di Bagam tapi juga di jual ke Singapura melalui pelabuhan Belakang Padang. Ikan dingkis Belakamv Pdanv banyak telurnya dan baunya tidak anyir. Mereka warga Tionghoa lebih suka ikan dingkis hasil tangkapan di sini, dibandingkan daerah lain di luar perariran Belakang Padang,” kata Yudi.