Jalan Patimura di Mata Sopir Taksi Telaga Punggur: Mobil Kotor, Penumpang Gelisah, Kecelakaan Mengintai

Ketua Taksi Konvensional Telaga Punggur, Abdul Wahab (Foto: Randi Rizky K)

BATAM – Jalan Patimura, persis di sisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur, Batam seperti memperlihatkan wajah yang lain, wajah yang lecah, kusam, seakan tak ingin seirama dengan megahnya kota industri ini.

Jalan dengan panjang diatas satu kilometer itu menjadi satu-satunya pintu masuk darat bagi penumpang feri dari Tanjungpinang, Bintan, Lingga, Karimun, bahkan dari Riau dan Jambi, jika pakai roro. Namun jalan tersebut seolah-olah menyambut mereka dengan lumpur, debu, dan tentunya sampah.

Bagi sopir taksi Pelabuhan Telaga Punggur, ini bukan sekadar pemandangan sehari-hari. Ini nasib yang sudah menahun.

“Ini bukan baru sehari, seminggu, atau sebulan,” Ketua Taksi Konvensional Pelabuhan Telaga Punggur, Abdul Wahap ketika ditemui ulasan.co tempo hari, Jumat 14 November 2025.

“Sudah tahunan. Jalannya rusak, kotor, apalagi kalau hujan turun.” sambungnya bercerita

Saat hujan, badan jalan berubah menjadi bubur cokelat pekat. Saat matahari naik, debu berhamburan ke mana-mana. Di kiri-kanan jalan, sampah berserakan, seakan berpacu keluar dari perut TPA yang berdiri tak jauh. Setiap kendaraan yang lewat seperti menyeret sedikit dari kekacauan itu.

Bagi sopir taksi, kondisi itu bukan hanya soal kenyamanan berkendara. Ini soal nafkah. “Mobil harus bersih. Kalau masuk pelabuhan dalam kondisi kotor, bisa ditegur,” kata Wahab.

Hampir tiap hari mereka mencuci mobil. Kolong pun tak luput dibersihkan, ritual yang membuat ongkos perawatan membengkak “Kalau tidak dicuci, mobil bisa berkarat. Cuci kolong itu mahal bang,” katanya mewakili keluhan para supir taksi pelabuhan.

Penumpang pun pernah bertanya-tanya padanya. “Pak, kok jalan dibiarkan begini?” begitu cerita Wahab menirukan keluhan salah seorang penumpangnya.

Ia hanya bisa menjawab lirih “Kami ini pengguna jalan, kami bisa apa? Pemerintahnya kan tahu kondisi ini. Mereka juga lewat sini.” ujar wahab mengulangi percakapannya itu.

Tikungan Berbahaya

Lumpur bukan satu-satunya biang masalah. Tikungan dekat akses keluar-masuk TPA, tempat truk-truk sampah hilir mudik, menjadi titik rawan. Warga yang baru pertama kali melintas kerap keliru membaca jalur. Zona itu kata Wahab, tak ramah bagi kecepatan, sedikit saja kelengahan bisa terjun ke parit.

“Kemarin bahkan ada supir taksi bersenggolan dengan truk sampah,” katanya.

Dalam dua-tiga bulan terakhir, sudah dua hingga tiga kecelakaan terjadi. Seorang pengendara motor yang berboncengan terjun ke parit. Sebuah pick up L300 yang membawa muatan terperosok ke semak-semak.

“Semua orang ambil jalur kanan, karena lebih bersih, tidak banyak lumpur. Jalur kiri itu lumpurnya tebal.” kata Wahab melanjutkan ceritanya.

Namun jalur kanan pun bukan tanpa cela. Dua lubang besar menganga sekitar 50 meter sebelum tanjakan menuju TPA.

“pengendara enggan lewat situ. Lubangnya besar dan menonjol,” ujarnya.

Wahab menyebut akar persoalan tak jauh dari dua hal, drainase dan lintasan truk sampah. “Parit sudah tertutup tanah. Air hujan yang seharusnya turun ke samping malah mengalir mengikuti badan jalan,” katanya.

Lumpur dari ban truk sampah pun ikut menyelimuti aspal, ditinggalkan begitu saja setelah truk-truk itu menuruni jalan dari TPA. “Setiap kali truk keluar, pasti membawa sisa lumpur,” tutur Wahab menyambungkan.

Wajah Pertama Batam

Bagi Wahab, sebagai gerbang masuk kota, Jalan Patimura memikul harapan yang lebih besar, bahwa Batam bisa menyambut pendatang dengan wajah bersih dan rapi. Namun kenyataan di lapangan membuat citra itu retak.

“Ini akses masuknya pariwisata, penumpang domestik, bahkan mancanegara,” kata Wahab.

“Harapan kami pemerintah turun tangan. Dibersihkan, dirapikan. Karena kalau ditengok identiknya kalau sudah mobil kotor, berlumpur, warna merah itu pasti dari telaga punggur,” ujarnya ironis.

Selama pembenahan tak kunjung datang, para sopir akan tetap membersihkan kolong mobil, tetap berjaga di tikungan berlumpur, tetap menata kesabaran. Batam, dalam diam, membiarkan lumpur itu menempel bukan hanya di roda kendaraan, tetapi pada kesan pertama kota ini.