Mengenang Marsinah, Pejuang Hak Buruh dari Jawa Timur Resmi Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Aksi teatrikal tentang sosok Marsinah. (Foto: Kristianto Purnomo/Kompas.com)
Aksi teatrikal tentang sosok Marsinah. (Foto: Kristianto Purnomo/Kompas.com)

JAKARTA – Penetapan gelar Pahlawan Nasional untuk Marsinah menjadi momen bersejarah bagi gerakan buruh di Indonesia. Setelah 32 tahun berlalu sejak kematiannya yang tragis, perjuangan Marsinah akhirnya diakui secara resmi oleh negara.

Marsinah dikenal sebagai buruh wanita pemberani dari Sidoarjo yang berjuang menuntut keadilan dan hak-hak pekerja. Ia ditemukan tewas mengenaskan pada Mei 1993 setelah memperjuangkan nasib rekan-rekannya yang dipecat secara sepihak.

Kini, semangatnya kembali hidup — bukan hanya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, tetapi juga sebagai inspirasi nasional bagi semua pekerja Indonesia untuk terus memperjuangkan hak-haknya dengan keberanian dan ketulusan.

Pemerintah Pastikan Marsinah Masuk Daftar Penerima Gelar

Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa daftar 49 nama calon penerima gelar Pahlawan Nasional sudah diserahkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Penyerahan dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon mewakili Dewan Gelar dan Tanda Jasa.

“Ya tentu sudah dong (diserahkan ke Presiden), dari Dewan Gelar kan. Pak Fadli Zon kan sudah menghadap Presiden untuk menyerahkan nama-nama yang telah memenuhi syarat ya,” kata Gus Ipul kepada wartawan di Jakarta Pusat, Sabtu (8/11).

Menurutnya, dari 49 nama tersebut, 40 merupakan usulan baru, sementara 9 lainnya berasal dari daftar lama yang belum sempat ditetapkan oleh presiden sebelumnya.

Di antara nama-nama besar itu, terdapat Presiden ke-2 RI Soeharto, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Syekhona Kholil Bangkalan, KH Bisri Syansuri, serta Marsinah, sang pejuang buruh wanita asal Jawa Timur.

“Ada beberapa nama ya, di antaranya tentu Presiden Soeharto, Presiden Gus Dur, ada Syekhona Kholil Bangkalan, ada Kiai Bisri Syansuri, dan ada pejuang-pejuang lain dari berbagai provinsi. (Marsinah) ya masuk, masuk, (kategori) pejuang buruh Marsinah juga masuk dari 49 itu,” terang Gus Ipul.

Keluarga Marsinah Akhirnya Terima Undangan dari Istana

Setelah puluhan tahun menanti, keluarga aktivis buruh legendaris Marsinah akhirnya menerima kabar menggembirakan. Pemerintah resmi mengundang pihak keluarga untuk hadir dalam acara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tahun 2025.

Marsini, yang merupakan kakak kandung Marsinah, memastikan dirinya akan hadir mewakili keluarga dalam acara pemberian penghargaan tersebut.

“Sekarang saya bisa bicara karena sudah jelas saya ke sini ini karena diundang juga untuk menerima sertifikat gelar pahlawan,” ujar Marsini di kantor Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Jakarta, Minggu (9/11/2025).

Baca Juga: Daftar Usulan 40 Tokoh Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2025, Ada Soeharto hingga Gus Dur

Marsini mengaku baru menerima informasi terkait penghargaan itu beberapa hari lalu. Karena khawatir terhadap maraknya penipuan, ia sempat memastikan kebenaran kabar tersebut dengan menanyakan langsung ke beberapa pihak resmi.

“Begitu ada ini ada kekhawatiran, ada ketakutan gitu. Nah setelah itu kan di link-nya, di link-nya itu penerima, pendamping penerima,” tuturnya menjelaskan dengan nada lega.

Lebih lanjut, Marsini menyebut pihak keluarga sudah diminta menyiapkan sejumlah dokumen digital sebagai bagian dari proses administrasi penerimaan gelar. Ia pun berharap agar masyarakat turut mendoakan arwah adiknya, Marsinah.

“Saya khususnya itu minta doa. Karena Marsinah tidak punya keturunan. Sehingga mendoakan karena hasilnya sudah dinikmati oleh teman-teman. Saya mohon doa untuk Marsinah yang sudah mengorbankan diri,” ungkap Marsini haru.

Profil Singkat Marsinah

Dikutip dari tayangan Melawan Lupa, Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, Marsinah dikenal tangguh. Ibunya meninggal saat ia baru berusia tiga tahun, membuat Marsinah tumbuh mandiri.

Ia menempuh pendidikan di SDN Nglundo 2, kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Nganjuk, dan akhirnya ke SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Sejak sekolah, Marsinah dikenal cerdas, tegas, dan pantang menyerah.

Sayangnya, selepas SMA, ia tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Meski begitu, semangat belajarnya tak pernah padam. Marsinah rajin mengikuti kursus keterampilan dan gemar membaca, bahkan tak segan mempelajari koran bekas untuk menambah wawasan.

Perjalanan Menjadi Buruh

Setelah lulus SMA, Marsinah bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik arloji di Sidoarjo. Di tempat inilah ia mulai dikenal sebagai buruh cerdas dan kritis. Banyak rekan kerjanya yang meminta saran darinya, terutama terkait aturan ketenagakerjaan.

Marsinah kerap tampil membela teman-temannya yang mendapat perlakuan tidak adil dari perusahaan. Ia bahkan menjadi pelopor aksi buruh di lingkungan kerjanya. Keberanian Marsinah membuat banyak orang kagum sekaligus khawatir terhadap keselamatannya.

Pada 2 Mei 1993, Marsinah diketahui ikut dalam rapat rencana pemogokan massal yang digelar para buruh. Aksi ini akhirnya terjadi pada 3–4 Mei 1993 dan menjadi awal dari tragedi besar yang menimpa dirinya.

Perjuangan Terakhir Marsinah

Dalam aksi mogok tersebut, para buruh menuntut perbaikan upah, jaminan kesehatan, tunjangan hari raya, hingga perlakuan adil dari perusahaan. Aksi mereka mendapat tekanan dari aparat, namun para buruh tetap teguh.

Hasilnya, perundingan antara buruh dan pihak perusahaan menghasilkan 12 poin kesepakatan tertulis, salah satunya kenaikan upah dan jaminan sosial tenaga kerja. Sayangnya, perjuangan itu tidak berakhir di sana.

Hanya sehari kemudian, pada 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil ke Kodim 0816 Sidoarjo dan dipaksa mengundurkan diri. Mereka diintimidasi dan disuruh menandatangani surat pengunduran diri disertai pesangon tidak resmi.

Kabar ini membuat Marsinah geram. Ia menulis catatan panduan untuk kawan-kawannya agar tidak takut menghadapi interogasi di Kodim. Bahkan, ia berkata tegas,

“Kalau mereka diancam akan dimejahijaukan oleh Kodim, saya akan bawa persoalan ini kepada paman saya di Kejaksaan Surabaya.”

Hari itu juga, Marsinah sempat mengantarkan surat protes ke pabrik, lalu berkunjung ke rumah beberapa temannya. Namun malam itu, Marsinah menghilang dan tak pernah kembali.

Penemuan Jasad Marsinah yang Mengenaskan

Tiga hari kemudian, 8 Mei 1993, tubuh Marsinah ditemukan di sebuah gubuk di Desa Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Kondisi jasadnya mengenaskan, penuh luka yang menunjukkan tanda-tanda penyiksaan berat.

Awalnya, kematian Marsinah disebut sebagai kasus kriminal biasa. Namun, tekanan publik yang semakin besar memaksa aparat membentuk tim investigasi khusus.

Pada 30 Oktober dan 1 November 1993, polisi menangkap delapan orang petinggi dan karyawan PT CPS, termasuk Direktur Judi Susanto. Mereka dituduh terlibat dalam pembunuhan Marsinah.

Sayangnya, proses penyidikan penuh kejanggalan. Banyak saksi dan terdakwa mengaku dipaksa dan disiksa untuk memberikan kesaksian tertentu. Meski demikian, pengadilan tetap menjatuhkan vonis berat, termasuk hukuman 17 tahun penjara untuk Judi Susanto.

Namun, keadilan kembali buram. Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung membebaskan semua terdakwa, dan hingga kini pelaku pembunuhan Marsinah belum pernah terungkap.

Warisan Perjuangan Seorang Pahlawan Buruh 

Kisah hidup Marsinah menjadi simbol perjuangan buruh Indonesia. Keberaniannya melawan ketidakadilan menginspirasi banyak generasi untuk terus memperjuangkan hak-hak pekerja.

Setiap tahun, pada 8 Mei, berbagai komunitas buruh dan pegiat HAM memperingati Hari Marsinah sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan pemberani ini. Meski nyawanya telah direnggut secara tragis, semangatnya tetap hidup dan menjadi api bagi perjuangan buruh di Tanah Air.

Ikuti Berita Ulasan.co di Google News