Bidik

Menjaring Warga Batam yang Terpapar COVID-19

Lewat tes antigen massal, Wali Kota Batam Muhammad Rudi ingin menekan angka COVID-19. Tidak tanggung-tanggung Rp 10 miliar akan disiapkan dalam penanganannya.

Batam – Kebijakan Wali Kota Batam Muhammad Rudi melaksanakan tes swab antigen massal warganya menuai polemik.

Selain tujuannya bagus untuk mengetahui siapa saja warga yang terpapar. Tes antigen massal ini dinilai menakuti warga Batam.

Rudi mengatakan, nantinya tes antigen massal ini akan dilakukan di tingkat kelurahan untuk masing-masing kecamatan di Kota Batam, Kepulauan Riau.

“Nanti ada kelurahan-kelurahan yang kita jadikan contoh untuk menyisir agar semua dites antigen. Jadi kita pisahkan mana yang sehat mana yang sakit,” ujar Rudi saat memberikan bantuan beras di kawasan SP plaza, Selasa (27/07) lalu.

Untuk skema pelaksanaan tes antigen massal, pihaknya akan mendahulukan daerah-daerah yang masuk ke dalam zona merah.

Menurut Rudi, cara seperti ini mampu menekan angka kasus COVID-19. Sebab, katanya, lebih mudah di pantau dan ditracing. “Tentunya ada prioritas, zona merah akan kami dahulukan,” kata Rudi.

Rudi berharap masyarakat dapat menyukseskan kegiatan ini dan menepis segala kabar bohong (hoaks) yang menggiring program tersebut.

Asrama Haji Batam (Foto: Engesti)

Rusun dan Asrama Haji Jadi Tempat Isolasi

Wali Kota Batam Muhammad Rudi menyiapkan rumah susun (rusun) sebagai tempat isolasi pasien COVID-19, yakni Rusun BP Batam dan Asrama Haji. Setiap warga yang terpapar berdasarkan hasil tes antigen akan dikarantina di tempat tersebut.

“Jadi nanti jika ada yang positif keluarganya akan kita angkut dan sudah kita siapkan tempatnya,” kata Rudi.

Tidak hanya yang terjaring tes antigen massal, untuk mencegah penularan COVID-19 pasien isolasi mandiri (isoman) akan dijemput dan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Sehingga, kata dia, pelaksanaan tes antigen massal ini akan membuat masyarakat terisolasi dengan sendirinya.

“Yang OTG pasien isoman nanti akan dijemput dan dipindahkan ke lokasi,” katanya.

Anggaran Rp10 Miliar

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Ahmad menjelaskan akan memberikan target kepada pukesmas untuk melakukan Antigen massal kepada 1.000 masyarakat dalam sehari.

Pihaknya mengaku menganggarkan sebesar Rp10 miliar merupakan hasil recofusing yang telah dibahas oleh pemerintah daerah.

“Anggaran ini telah disiapkan dalam recofusing, kita akan bahas terus menerus,” kata Amsakar.

Anggota Komisi III DPRD Kota Batam Thomas Arihta Sembiring. (Foto: Engesti)

Tidak Tepat Dilaksanakan

Anggota DPRD Kota Batam Thomas Arihta Sembiring menyoroti kebijakan Wali Kota Batam dalam mengatasi pandemi COVID-19. Ia menilai cara yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Batam dengan melakukan tes antigen massal belum tepat.

Sebab, ada beberapa hal belum pemerintah lakukan untuk melakukan tes Antigen massal tersebut.

Pertama, Herd Education Sociate (Pendidikan Kesehatan Kepada Masyarakat). Menurutnya ini adalah hal yang paling utama untuk mengetahui secara mendalam tentang virus COVID-19.

“Para medis secara terus menerus dan berkelanjutan melakukan sosialisasi apa itu Virus Corona bagaimana mencegahnya itu yang utama,” katanya.

Kedua, Herd Nutrisi Education Sociate, pemerintah harus melakukan edukasi nutrisi. Artinya pemerintah harus memberikan pendidikan tentang makanan apa yang harus di konsumsi masyarakat agar memiliki ketahanan tubuh yang tinggi.

Ketiga, treatment, Thomas menilai tes antigen yang dilakukan oleh pemerintah saat ini hanya sia-sia karena bukan alat ukur yang akurat terhadap orang yang bergejala.

“Nanti tes antigen positif, tes PCR tidak terpapar, percuma, makanya yang harus dilakukan pemerintah seperti yang saya sebutkan tadi dan treatment,” katanya.

Ia menyinggung dengan memberlakukan treatment seharusnya posyandu yang ada di setiap kelurahan agar di berdayakan dengan baik.

“APBD Batam sudah keluar berapa untuk membangun posyandu kenapa tidak di maksimalkan. Kita pernah mengalami kekurangan ruangan untuk isolasi. Sekarang kalau di Batam ada sekitar 300 posyandu maka pemerintah kota Batam sudah punya 1.000 ruang isolasi lengkap dengan alat kesehatan lainnya,” katanya.

Ia menyarankan, untuk menekan lajunya virus COVID-19 pemerintah menyiapkan satgas yang terpusat di kecamatan dan kelurahan.

“Hampir setiap RT punya posyandu manfaatkan itu. Jadi tidak perlu kemana -mana jadi dia Isolasi itu masih di kampungnya secara sikologis itu terbantu” katanya.

Menakuti Warga

Ketua Himpunan Mahasiswa Kota Batam Adjie Adriansyah menilai wacana Wali Kota Batam untuk melakukan tes antigen massal menimbulkan ketakutan di masyarakat.

“Batam ini kompleks dan penanganannya juga harus memperhatikan kondisi sosial masyarakat. Kebijakan antigen masal yang baru baru ini disampaikan wali kota untuk penekanan dan pemisahan antara positif sama tidak, seolah olah seperti menodong,” kata Adjie.

Ia menilai dengan adanya tes antigen massal hanya akan menghabiskan anggaran.

“Jangan sampai kita banyak menghabiskan anggaran dengan kebijakan tanpa memperhatikan kondisi sosial,” katanya.

Salah seorang warga Batam, Indra mengaku enggan mengikuti tes antigen massal. Sebab, dirinya khwatir tidak bisa kerja kalau dinyatakan positif.

“Nanti tidak bisa kerja. Keluarga lagi susah,” katanya.

Berbeda dengan Surya (22) pedagang pasar mengaku, dengan adanya tes antigen sangat membantu untuk mengetahui kondisi dirinya.

“Ya biar tahu aja kondisi badan kan sering jumpa orang yang beda-beda,” kata Surya.

Ia berharap, dengan mengetahui kondisi kesehatannya dirinya tidak membahayakan orang lain.

Pandangan Pengamat

Pengamat Kebijakan Publik Alfiandri mengaku setuju dengan rencana Wali Kota Batam yang akan melakukan tes antigen massal warganya.

“Itu bagus, swab itu untuk mengetahui kondisi masyarakat baik yang terpapar maupun tidak terpapar,” kata Alfiandri baru-baru ini.

Menurutnya, di tengah kondisi krisis pandemi ini tentu masyarakat membutuhkan fasilitas (instrumen) untuk bisa melihat gejala fenomena gerak laju virus COVID-19.

“Tapi, harus didampingi pakar atau ahli dan tenaga medis. Frekuensi virus itukan tergantung tubuh masing-masing,” katanya.

Agar tes usap massal itu berjalan efektif, kata dia, pemerintah harus menyiapkan fasilitas (instrumen) bagi masyarakat yang nantinya dinyatakan positif.

“Negara atau pemerintah daerah harus menyiapkan itu, jangan sampai seperti di Jawa yang isolasi mandiri tapi meninggal satu keluarga,” katanya.

Berdasarkan kaca mata Alfiandri, kebijakan yang sedang dicanangkan oleh Wali Kota Batam efektif untuk menekan laju penyebaran COVID-19. Ia berharap hal ini juga ditetapkan di daerah lain.

“Artinya kita membatasi ruang gerak virus ini. Sehingga virus COVID-19 bisa terpantau dan dicegah,” katanya.

Namun, sebelum itu dilakukan. Ia juga meminta harus ada sosialisasi kepada masyarakat sebelum melakukan tes antigen massal tersebut.

“Adalah sosialisasi, komunikasinya harus disampaikan ke publik siapakanlah Flayyer atau spanduk jangan sampai masyarakat takut untuk di swap,” tegasnya.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi (Foto: Engesti)

Alat Masih Terbatas

Wali Kota Batam Muhamad Rudi mengatakan, memang saat ini yang menjadi kendala adalah keterbatasan alat tes usap antigen. Pihaknya tengah berupaya untuk memenuhi kebutuhan tes antigen tersebut.

“Ada sekitar 700 atau 800 ribu yang akan di tes, maka kita butuh sepertiganya dari penduduk yang di tes ini lebih kurang 300 ribu tes antigennya agar kerjanya tidak terputus,” kata Rudi baru-baru ini.

Ia menjelaskan, jika kuota 300 ribu alat usap antigen itu dapat terpenuhi maka dalam tiga hari kedepan tes Antigen massal bisa terlaksana.

Rudi menilai, dengan cara seperti ini (tes Antigen massal) dapat mencegah penularan virus COVID-19 lebih luas dan lebih mudah untuk dikendalikan.

“Makannya kita tunggu, pemko dan BP akan menganggarkan juga. Kalau dalam dua tiga hari ini ada kita laksanakan,” kata wali kota sekaligus kepala BP Batam itu.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad (Muhammad Chairuddin)

Antigen Massal Belum Bisa Diterapkan di Kepri

Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad mengatakan tes antigen massal belum bisa digelar di Kepri.

Ansar menyebut, hal ini disebabkan ketersediaan alat yang menjadi kendala untuk mewujudkan tracking dan testing massal tersebut.

“Sementara ini kerena keterbatasan alat rapid atigen,” kata Ansar, Jumat (23/07).

Untuk saat ini, lanjut Ansar, cara yang gencar dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 adalah memperbesar cakupan tracing dan testing.

“Saat ini masih mentracing orang-orang yang berdekatan, semakin banyak kita deteksi semakin mudah. Satu orang terkonfirmasi positif, ada 15 yang kontak erat akan diperiksa. Itu salah satu cara memutus mata rantai COVID-19,” kata Ansar.

Menurut Ansar cara 1/15 untuk menekan jumlah kasus COVID-19 dinilai masih efektif. Artinya, jika ada satu orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 ada 15 orang yang harus ditracing.

Kepala Dinas Provinsi Kepri Mohammad Bisri menambahkan, tes antigen massal tidak perlu dilakukan. Sebab dengan cara melakukan tracking yang ketat itu sama saja dengan tes antigen massal.

“Itu bagus sebenarnya. Tapi dari sumber pelacakan saja itu sudah cukup. Dari kasus yang positif itu di tracing secara optimal sudah cukup sebenarnya sama saja,” katanya.

Bisri mencontohkan, jika di Batam kasus positifnya ada 500 orang dan ada 20 orang yang ditracing maka kira-kira ada 3.000 yang yang harus ditracing pula.

“Dengan begitu sama saja dengan tes massal sebetulnya,” ungkap Bisri.

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Kepri sampai tanggal 30 Juli 2021, jumla kasus COVID-19 di Kota Batam Batam mencapai 23.154 orang, kasus aktif di Batam 2.448 orang, total pasien yang sembuh di Batam 20.103 orang, dan pasien meninggal dunia di Batam 603 orang. (*)

Pewarta : Engesti
Redaktur : Muhammad Bunga Ashab

Related Articles

Back to top button