BATAM – Di Kabupaten Bintan, kehidupan masyarakat pesisir berputar mengikuti irama laut. Para nelayan, yang mayoritas laki-laki, menggantungkan pendapatan keluarga pada tangkapan harian.
Namun, ketika cuaca ekstrem datang dan angin utara mengamuk di penghujung tahun, aktivitas melaut langsung lumpuh total.
Pada kondisi itu, muncul pertanyaan besar. Siapa yang berjuang menjaga ketahanan pangan keluarga ketika laut tidak bersahabat?
Pertanyaan tersebut mendorong Sri Wahyuni, dosen Sosiologi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), bersama timnya untuk meneliti lebih dalam dinamika masyarakat pesisir di Tanjung Uban.
Baca Juga: Disnakerind Karimun Cetak 35 Teknopreneur Muda, Siswa SMK Dilatih Rakitan Mesin Canggih
Melalui penelitian itu, mereka menemukan fakta penting bahwa perempuan justru menjadi benteng utama dalam menjaga kebutuhan pangan rumah tangga.
“Dalam budaya patriarki, laki-laki biasanya dianggap penanggung jawab utama. Tapi ketika laut menolak, perempuan justru mengambil peran paling besar,” kata Sri Wahyuni kepada ulasan.co, Selasa 18 November 2025.
Penelitian berjudul “Peran Perempuan dalam Ketahanan Pangan Keluarga Nelayan Menghadapi Ancaman Perubahan Iklim di Kabupaten Bintan: Studi Gender dan Kemiskinan dalam Kerangka Pencapaian SDGs” ini menyoroti bagaimana perempuan beradaptasi dengan perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi untuk menjaga stabilitas keluarga.
Setelah menelusuri kehidupan para nelayan, Sri dan tim menemukan bahwa penurunan hasil tangkapan ikan serta naik-turunnya harga pangan membuat keluarga nelayan semakin rentan. Oleh sebab itu, perempuan harus mengambil langkah cepat untuk memastikan kebutuhan rumah tetap terpenuhi.
“Kalau terjadi cuaca ekstrem, bapak-bapak tidak bisa melaut. Namun keluarga tetap harus bertahan hidup. Di sinilah peran perempuan dituntut beradaptasi dengan keadaan,” jelas Sri.
Dalam situasi yang menekan itu, perempuan akhirnya mengambil alih kemudi. Mereka tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga mencari peluang baru.
Selain itu, mereka mengolah bahan pangan lokal, mengelola stok dapur, membuka usaha kecil, bekerja serabutan, hingga membangun home industry. Semua usaha tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Peran besar perempuan juga terlihat ketika banjir akibat pasang surut dan curah hujan tinggi mengganggu kegiatan harian masyarakat pesisir.
Baca Juga: Remaja SMA di Bintan dan Tanjungpinang Terpapar LGBT, Orang Tua Diminta Waspada
“Perempuan pesisir mau tidak mau harus beradaptasi agar pola kehidupan rumah tangga tetap berjalan. Ketika cuaca ekstrem, laki-laki sibuk memperbaiki jaring, sementara rumah tetap butuh makan,” kata Sri menekankan ironi.
Namun, perjuangan perempuan pesisir tidak berhenti di situ. Tantangan lain berupa kemiskinan struktural, minimnya akses modal, kurangnya teknologi, terbatasnya pelatihan perikanan, serta lemahnya perlindungan sosial membuat mereka menghadapi beban ganda.
Sri Wahyuni menegaskan bahwa hasil penelitian ini selaras dengan target pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama pada tujuan pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, kesetaraan gender, dan mitigasi perubahan iklim.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi berbagai pihak—mulai dari pemerintah daerah, lembaga pemberdayaan perempuan, dinas perikanan hingga masyarakat lokal—untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga nelayan.
“Penelitian ini membuka mata kita bahwa perempuan bukan sekadar pendukung ekonomi keluarga, tapi memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan,” kata Sri menutup wawancara.
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News

















