Politik
Trending

Presiden Baru Iran Akan Pulihkan Hubungan dengan Arab Saudi

Teheran – Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi, menyatakan bahwa memulihkan hubungan dengan Arab Saudi, rival Iran, akan menjadi prioritas kebijakan luar negerinya.

Seperti dilansir Arab News dan AFP, Selasa (22/6/2021), Raisi dalam konferensi pers terbaru yang digelar di Teheran pada Senin (21/6) waktu setempat, menuturkan bahwa pemerintahannya terbuka untuk memulihkan hubungan dengan Saudi.

“Tidak ada hambatan dari pihak Iran untuk membuka kembali kedutaan… Tidak ada hambatan untuk menjalin hubungan dengan Arab Saudi,” tegas Raisi.

Diketahui bahwa Saudi dan Iran yang terlibat persaingan sengit untuk dominasi kawasan, telah memutuskan hubungan satu sama lain pada tahun 2016 setelah demonstran Iran menyerang misi diplomatik Saudi menyusul eksekusi mati seorang ulama Syiah oleh otoritas Saudi.

Kedua negara yang bertetangga ini juga selalu mendukung pihak yang bertentangan dalam sejumlah konflik kawasan, mulai dari Suriah hingga Yaman. Dalam konflik Yaman, Iran mendukung pemberontak Houthi dan Saudi mendukung pemerintahan Yaman yang dilengserkan Houthi.

Sejumlah sumber dan pejabat Timur Tengah mengungkapkan bahwa pada April lalu, kedua negara menggelar pembicaraan dua putaran di Baghdad, Iran, untuk memperbaiki hubungan.

Pembicaraan kedua negara digelar saat Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Joe Biden berupaya memulai kembali perundingan nuklir Iran yang ditinggalkan AS di bawah era mantan Presiden Donald Trump. Otoritas AS juga menyerukan Saudi untuk mengakhiri perang melawan pemberontak Houthi di Yaman.

Sejumlah sumber menuturkan kepada Reuters beberapa waktu lalu bahwa Iran berjanji untuk menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan serangan pemberontak Houthi terhadap Saudi, dan sebagai imbalannya meminta Saudi untuk mendukung perundingan nuklir Iran.

Raisi memenangkan pemilu Iran yang digelar pekan lalu, yang diwarnai jumlah pemilih terendah dalam sejarah negara Syiah tersebut. Jutaan warga Iran dilaporkan memilih tetap berada di rumah sebagai wujud protes atas pemungutan suara yang mereka anggap menguntungkan Raisi.

Kemenangan Raisi menempatkan kelompok garis keras dalam kendali pemerintahan Iran, saat perundingan di Wina terus berlanjut untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran. *

Pewarta : detik.com
Editor : MD Yasir

Related Articles

Back to top button