RUSIA – Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menegaskan bahwa perang di Ukraina hanya akan berhenti jika Kyiv menarik pasukannya dari wilayah yang diklaim Moskwa sebagai bagian sah dari Rusia.
Selain itu, ia menegaskan operasi militernya hanya akan dihentikan bila Ukraina meninggalkan wilayah tersebut.
Dia menyampaikan ultimatum tersebut dengan tegas.
“Jika pasukan Ukraina meninggalkan wilayah yang mereka kuasai, maka kami akan menghentikan operasi tempur. Jika tidak, kami akan mencapainya dengan cara-cara militer,” kata Putin dalam kunjungan ke Kirgistan.
Selanjutnya, Putin memperingatkan bahwa Rusia tetap siap melanjutkan agresi militer apabila Ukraina menolak. Tentara Rusia hingga kini bergerak perlahan namun konsisten di Ukraina timur melalui pertempuran sengit melawan pasukan Kyiv yang kalah jumlah dan kalah persenjataan.
Baca Juga: AS Usul Gencatan Senjata Perang Rusia-Ukraina, Putin Setujui dengan 5 Syarat Ini
Kemudian, laporan menyebutkan bahwa Rusia kini menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina. Namun demikian, wilayah pendudukan ini menjadi hambatan besar dalam proses perdamaian karena Ukraina menegaskan tidak akan menyerahkan sejengkal pun tanahnya.
Di sisi lain, isu lain yang mencuat adalah permintaan Ukraina atas jaminan keamanan dari Barat. Pemerintah Ukraina menilai jaminan tersebut sangat penting untuk mencegah Rusia kembali melakukan invasi di masa mendatang.
Sementara itu, Washington kembali berupaya mendorong penyelesaian konflik yang hampir memasuki tahun keempat. Amerika Serikat (AS) bahkan mengajukan rencana perdamaian yang disusun tanpa melibatkan Eropa dan Ukraina serta berharap rencana tersebut dapat dibahas dengan Moskwa dan Kyiv.
Menurut laporan, rancangan awal memuat ketentuan Ukraina menarik diri dari wilayah Donetsk di timur. Sementara AS secara de facto mengakui Donetsk, Crimea, dan Lugansk sebagai bagian dari Rusia. Akan tetapi, setelah mendapat kritik keras dari Kyiv dan sejumlah negara Eropa, AS merevisi rencana tersebut meski belum memublikasikan versi terbarunya.
Selanjutnya, Putin mengaku Moskwa telah melihat rancangan terbaru yang lebih ringkas dan dianggap bisa menjadi titik awal perundingan.
Baca Juga: Perang Gaza Resmi Berakhir, Para Sandera Dibebaskan
“Secara keseluruhan, kami sepakat bahwa hal itu dapat menjadi dasar bagi kesepakatan di masa depan,” ujar Putin tentang draf terbaru yang disebut telah dipangkas menjadi sekitar 20 butir.
Namun demikian, Putin menegaskan bahwa Rusia tetap menginginkan pengakuan internasional atas wilayah pendudukan tersebut. Pernyataan keras itu langsung dibantah oleh Kepala Staf Kepresidenan Ukraina Andriy Yermak.
“Selama Zelensky masih menjadi presiden, tidak seorang pun boleh berharap kami menyerahkan wilayah. Ia tidak akan menandatangani perjanjian yang melepas wilayah,” kata Yermak dalam wawancara dengan media AS, The Atlantic.
Setelah itu, Yermak menegaskan bahwa satu-satunya hal realistis yang bisa dibahas saat ini hanyalah penetapan garis kontak di sepanjang garis depan pertempuran sepanjang sekitar 1.100 kilometer.
Berikutnya, Putin mengatakan bahwa utusan AS, Steve Witkoff, dijadwalkan mengunjungi Moskwa pekan depan untuk membahas dokumen revisi tersebut. Di saat bersamaan, Yermak menyebut Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll akan datang ke Kyiv pada pekan ini.
Rusia Klaim Mengepung Wilayah Ukraina
Dalam pernyataannya, Putin kembali mengklaim bahwa pasukan Rusia telah mengepung Pokrovsk dan Myrnograd di Donetsk, yang kini menjadi titik pertempuran paling sengit.
“Krasnoarmeysk dan Dimitrov sepenuhnya terkepung,” kata Putin, menggunakan nama Rusia untuk kota Pokrovsk dan Myrnograd.
Selain itu, ia juga menyebut pasukan Rusia terus bergerak maju di Vovchansk dan Siversk serta mendekati kota Guliaipole yang penting sebagai simpul logistik. Ia menegaskan bahwa serangan Rusia mustahil dibendung sehingga hampir tidak ada yang bisa menghentikannya.
Namun demikian, pemerintah Ukraina membantah klaim tersebut. Kyiv menyatakan bahwa pasukan mereka masih bertahan kuat di sepanjang garis pertahanan. Pada saat yang sama, Putin mempertanyakan legitimasi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan menyebut penandatanganan perjanjian dengannya hampir mustahil secara hukum.
Pernyataan tersebut langsung menuai keberatan dari Kyiv dan para sekutu Barat yang menilai komentar Putin sebagai upaya mengacaukan proses negosiasi.
Selanjutnya, data AFP yang dianalisis dari Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan bahwa pasukan Rusia merebut rata-rata 467 kilometer persegi wilayah setiap bulan sepanjang 2025, meningkat dari capaian pada 2024.
Sebagai penutup, invasi penuh Rusia sejak Februari 2022 telah memicu konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Perang tersebut menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan warga meninggalkan rumah mereka demi mencari keamanan.
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















