Rekening Langsung Ludes, Modus Baru di TikTok Shop yang Gunakan AI untuk Tipu Pembeli

Ilustrasi TikTok Shop. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi TikTok Shop. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Penipuan online kini makin marak di berbagai platform digital. Seiring kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), para pelaku kejahatan siber semakin lihai melancarkan aksinya untuk menjerat korban tanpa curiga.

Salah satu modus terbaru bahkan terjadi di platform TikTok Shop. Fakta mengejutkan ini diungkap oleh Nicolas Waldmann, Kepala Global TikTok Shop Governance and Experience.

Ia menjelaskan bahwa penjual palsu kini memanfaatkan teknologi AI generatif untuk menciptakan merek tiruan dan produk fiktif semirip mungkin dengan aslinya.

Tujuannya jelas, yaitu menipu pengguna agar membeli barang yang sebenarnya tidak pernah ada, seperti dilansir CNBC Indonesia yang bersumber dari Business Insider.

Baca Juga: TikTok Naikkan Bagi Hasil Naik Jadi 90 Persen? Kalahkan YouTube dan Instagram

“Sejujurnya, ini adalah kejahatan terorganisir,” kata Waldmann.

“Mereka pada dasarnya mencoba menjual, dan tentu saja, tidak pernah mengirimkan apa pun, lalu kabur membawa uang pelanggan,” jelasnya menambahkan.

Menurut Waldmann, AI generatif membuat modus penipuan semakin canggih dan sulit dideteksi. Meskipun penipuan e-commerce bukan hal baru, teknologi ini memungkinkan pelaku menipu sistem moderasi di berbagai platform besar, seperti TikTok Shop dan Amazon.

Namun di sisi lain, AI juga menjadi senjata penting bagi platform untuk melawan kejahatan digital. Sebagai contoh, Amazon telah menggunakan berbagai perangkat AI untuk mendeteksi produk palsu dan daftar penjualan ilegal, serta menghapusnya dari platform sejak Maret lalu.

Begitu pula dengan TikTok. Platform milik ByteDance itu menggabungkan kecerdasan buatan dengan moderasi manusia untuk melacak akun serta iklan penipuan.

TikTok juga menggandeng sejumlah perusahaan eksternal untuk membantu autentikasi produk mewah bekas dan menjaga keamanan transaksi pengguna.

“Kami menggunakan AI untuk berhadapan dengan AI,” tegas Waldmann.

Baca Juga: Utang Pinjol Tembus Rp 90,99 Triliun, Banyak Warga Indonesia Kini Kewalahan Bayar

TikTok Shop sendiri melaporkan bahwa dalam enam bulan pertama tahun 2025. Mereka telah menolak 70 juta produk dan menghapus 700.000 akun penjual karena melanggar kebijakan platform.

Sebagai informasi, TikTok Shop kini menjadi fokus utama ByteDance, perusahaan induk asal Tiongkok. Tahun lalu, mereka mencetak rekor penjualan mencapai US$100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) hanya dalam satu hari saat Black Friday di Amerika Serikat.

Meski sukses besar, TikTok tetap menghadapi tantangan berat di sektor e-commerce. Sejak mulai diuji di AS pada 2022, platform ini sering diserbu produk ilegal dan tiruan, seperti sirup THC hingga mainan seks.

Meskipun TikTok sudah mencantumkan daftar panjang barang terlarang di situs resminya. Penjual licik masih mampu menembus filter otomatis sistem untuk menjajakan produk tersebut.

Selain itu, barang tiruan dari merek ternama juga menjadi sumber masalah baru. Bahkan, sistem pendeteksi otomatis TikTok kerap membuat penjual asli merasa dirugikan karena terkena sanksi tanpa penjelasan yang jelas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, penipuan online semakin sulit dibedakan dari aktivitas jual beli sah. Oleh karena itu, pengguna disarankan tetap waspada, selalu cek keaslian toko dan produk sebelum bertransaksi, serta tidak mudah tergiur harga murah di platform belanja daring.*

Ikuti Berita Ulasan.co di Google News