Revitalisasi Tambak Udang, Upaya untuk Kebangkitan Ekonomi

Revitalisasi Tambak Udang, Upaya untuk Kebangkitan Ekonomi
Ilustrasi - Tambak udang. ANTARA/HO-KKP

JAKARTABudidaya udang terus dikembangkan oleh masyarakat. Semula dari pengelolaan tradisional menjadi lebih modern. Revitalisasi tambak udang ini merupakan upaya untuk menghasilkan produksi yang lebih banyak dan lebih bermutu.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melaksanakan berbagai program tambak klaster percontohan sebagai upaya merevitalisasi tambak tradisional antara lain di Kabupaten Aceh Tamiang.

Menurut data KKP, setelah berhasil dengan panen parsial perdana pada pertengahan bulan Februari tahun ini, tambak klaster percontohan budidaya udang vaname di Kabupaten Aceh Tamiang kembali melakukan panen parsial tahap kedua sebanyak 8,5 ton.

Baca juga: Budidaya Udang Vename Kini Bisa Gunakan Microbubble

Dengan demikian, dalam waktu pemeliharaan sekitar kurang lebih tiga bulan berhasil panen udang sebanyak 12,5 ton atau dengan nilai sekitar Rp671,9 juta.

Seorang pembudi daya di Desa Dagang Setia, Kabupaten Aceh Tamiang, Taufik optimistis dengan produksi dan ilmu yang telah dia dapatkan melalui pembangunan klaster percontohan tambak udang di desanya.

“Sebelum pembangunan, pendapatan kelompok kami dalam berbudi daya udang sistem tradisional menggunakan petakan lahan yang kini dibangun klaster, dalam satu siklus berkisar antara Rp15-20 juta,” kata Taufik dalam keterangan tertulis dari KKP.

Taufik juga merasa bersyukur bahwa kelompoknya mendapatkan ilmu berharga melalui pendampingan dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee, Aceh, yang secara rutin dilakukan, memberi masukan dan berbaur dengan masyarakat, sehingga memperkaya pemahaman masyarakat tentang budi daya udang.

Baca juga: Udang Vaname Diburu Pasar Internasional, Sepekan Terjual 5-10 Ton

Sementara itu Kepala BPBAP Ujung Batee, Manijo menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung secara penuh dalam memberikan pendampingan dan berbagi ilmu kepada pembudi daya agar akselerasi program terobosan dapat terwujud. Apalagi melihat semangat masyarakat serta potensi daerah yang tinggi seperti di Aceh Tamiang.

Komitmen KKP dalam menghasilkan produk udang berkualitas tentu saja tidak sebatas di Aceh. Di pulau lainnya, dapat dilihat komitmen yang sama yang ditunjukkan oleh Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Kepala BKIPM Palangka Raya Miharjo menegaskan bahwa jajarannya siap melakukan pendampingan quality assurance dari hulu melalui pemantauan hama dan penyakit ikan karantina sehingga keberhasilan dari program prioritas tadi dapat dilaksanakan.

Tak hanya itu, BKIPM Palangka Raya terus memantau para pemasok agar konsisten menerapkan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) sekaligus mendorong mereka untuk meningkatkan sarananya agar bisa mengantongi sertifikasi yang diperlukan.

Saat ini, BKIPM Palangka Raya tengah melakukan sinergi bersama instansi lain seperti Bea Cukai, Angkasa Pura dan Pelindo, sehingga udang dari Palangka Raya bisa langsung diserap oleh unit pengolahan ikan (UPI) dari berbagai daerah di Tanah Air.

Apalagi, di Kalimantan Tengah juga ada sejumlah agenda besar terkait udang pada tahun 2022 ini, yaitu pembuatan Detail Engineering Design (DED) kawasan tambak dari Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.