Sopir Truk Sampah DLH Batam Keluhkan Gaji Tak Kunjung Naik

Truk sampah DLH mengantri di TPA Telaga Punggur (Foto: Randi Rizky K)

BATAM – Sejumlah sopir truk sampah di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam menyampaikan keluhan terkait gaji yang dinilai tidak sebanding dengan beban kerja mereka di lapangan. Dengan penghasilan sekitar Rp3,6 juta per bulan, para sopir mengaku tanggung jawab yang mereka pikul terus bertambah, namun gaji tak kunjung mengalami kenaikan dalam tiga tahun terakhir.

Seorang sopir yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, para sopir bekerja mulai pukul 05.00 WIB setiap hari, mengangkut puluhan ton sampah dari berbagai kawasan di Batam.

Selain menghadapi risiko di jalan, mereka juga berhadapan dengan kondisi berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur, mulai dari antrean panjang, medan licin, hingga kerusakan armada yang kerap terjadi. Tidak jarang mereka baru bisa pulang pada pukul 21.00 WIB. Jam kerja yang tidak menentu membuat pekerjaan semakin berat.

“Kalau jam kerja kami, ngga ada jam kerja. Kerja kami jam mati. Hujan maupun bentrok, sehari minimal dua trip pengantaran. Masuk perumahan wajib dua trip walaupun kerja sampai malam,” ujarnya melalui sambungan telpon kepada ulasan.co Rabu 10 Desember 2025.

Bahkan mereka bekerja hampir seminggu penuh dengan hari libur hanya diberikan sekali sepekan, pada hari minggu.

“Kalau hari besar ngga ada libur, tanggal hitam semua,” katanya menekankan.

Ia mengatakan para sopir telah berkali-kali menyampaikan keluhan mereka ke DLH namun selalu mendapatkan jawaban yang sama.

“Gaji kami di bawah UMK Batam. Gaji ini ngga layak, tapi mau gimana lagi. Sudah berkali-kali kami bicara di rapat. Jawabannya selalu ‘diproses’ oleh kabid dan kepala dinas,” katanya getir.

Ia menuturkan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung selama tiga tahun dan berharap gaji para sopir dapat disesuaikan dengan UMK Batam.

Keluhan serupa disampaikan sopir lainnya. Ia mengatakan bahwa kabar soal kenaikan gaji pada 2025 justru tidak kunjung terealisasi, padahal tahun sudah hampir berakhir.

“Awal tahun dijanjikan naik, sampai sekarang tetap ngga naik. Kami ada protes, tapi mau gimana, kami hanya pekerja.” ujarnya lagi.

“Gaji kami 3,6 juta. Bonus pun ngga ada. Kalau dibilang cukup, ngga cukup. Beban kerja ngga sesuai. Kami kadang berangkat jam 5 subuh, keluar jam 8 malam, kadang lebih,” ungkapnya menambahkan.

Tak hanya itu, menurutnya, antrean panjang di TPA Telaga Punggur dan jumlah sampah yang semakin sesak memperburuk kondisi kerja.

“Di TPA sekarang sering mengantri, pembuangan sudah parah. Jalannya licin karena truk ngga bisa naik,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak DLH Kota Batam belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan para sopir tersebut. Ulasan.co telah mencoba menghubungi Kepala DLH Batam, Herman Rozie namun belum memperoleh jawaban.