KARIMUN – Angka stunting di Kabupaten Karimun kembali menjadi sorotan setelah pemerintah merilis data terbaru.
Data itu menunjukkan bahwa kasus stunting melonjak hingga 21,4 persen, melampaui rata-rata nasional 19,8 persen dan bahkan menjadi yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau yang hanya 15 persen.
Kondisi ini terasa ironis, sebab kenaikan angka stunting terjadi saat Pemerintah Kabupaten Karimun gencar melakukan intervensi gizi di berbagai lini.
Baca Juga: Pelaku Pembobol 4 Kios di Tebing Akhirnya Ditangkap Saat Santai di Kamar Hotel
Bupati Karimun, Iskandarsyah, menegaskan bahwa pemerintah daerah serius menangani kenaikan angka stunting ini. Namun, ia juga menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan gizi.
Ia menekankan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif. Menurutnya, faktor sosial-ekonomi berperan besar dalam meningkatnya jumlah balita stunting.
“Kita pemerintah akan mengidentifikasi masalahnya di mana. Tapi yang pasti persoalan kita ini adalah kemiskinan, makanya harus kita buka lapangan kerja yang seluas-luasnya,” ujar Bupati.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan program jangka pendek berupa intervensi gizi, peningkatan asupan, penggerakan SDM, bantuan stimulus, hingga pengalokasian dana cadangan khusus untuk mendukung program gizi.
“Kami minta diperhatikan lagi terkait data-data 21,4 persen itu. Di mana letak kelemahan kita, bila perlu kita ajak seluruh OPD, BKKBN dan TNI untuk menangani ini,” tegasnya.
Selain itu, Bupati juga menyoroti pentingnya perubahan perilaku hidup sehat, termasuk pentingnya edukasi menyusui dan pola asuh yang tepat.
Dua Metode Pengukuran Hasilnya Jauh Berbeda
Plt Kadis P2KBP3A Karimun, Yeli, mengungkapkan bahwa tim percepatan penanganan stunting sempat kebingungan karena terjadi perbedaan signifikan antara dua metode pengukuran.
Menurut versi e-PPBGM, yang menggunakan indikator tinggi badan terhadap umur, angka stunting Karimun hanya 7 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata Kepri maupun nasional.
Namun, versi SSGI/SKI, yang menggunakan variabel lebih banyak, justru menunjukkan angka 21,4 persen. Menjadikan Karimun sebagai kabupaten dengan angka stunting tertinggi di Kepri.
“Kami tim percepatan stunting agak bingung. Terus hasil rilis itu tidak disampaikan ke kami data-datanya kenapa Karimun berada di angka 21,4 persen itu,” ungkap Yeli.
Baca Juga: Sempat Kabur, Tekong Pembawa 6 PMI Ilegal Ditangkap Lanal TBK Saat Kembali dari Malaysia
Yeli kemudian menyoroti tren peningkatan stunting yang terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Pada 2022, angkanya mencapai 13,3 persen, naik menjadi 17,9 persen pada 2023, dan melonjak lagi menjadi 21,4 persen di 2024.
“Jadi angka terus naik, padahal intervensi sudah terus kita lakukan, bahkan di Juni 2024 itu sudah diintervensi, tapi tidak ada manfaatnya,” keluhnya.
Secara geografis, Kecamatan Tebing—khususnya Desa Pongkar—mencatat angka stunting tertinggi di Karimun. Sementara itu, wilayah Selat Mi justru berhasil mencapai status zero stunting, sehingga dianggap sebagai contoh keberhasilan intervensi yang tepat.*
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















