Opini  

Suara yang Hilang di Bunda Tanah Melayu

Mahasiswa Kabupaten Lingga, Merry Dwi Afrillina

Oleh:
Merry Dwi Afrillina
(Mahasiswa Kabupaten Lingga)

Lingga, yang dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu, menyimpan sejarah panjang tentang kejayaan, kebijaksanaan, dan peradaban yang pernah menjadi kebanggaan bangsa. Namun, di balik romantisme sejarah itu, kini gema perjuangan dan semangat kebangsaan seolah memudar. Suara lantang yang dahulu menggema dari tanah ini perlahan digantikan oleh keheningan dan sikap diam yang kian mengakar.

Dulu, tanah ini menjadi saksi lahirnya tokoh-tokoh yang tidak gentar memperjuangkan kebenaran. Mereka berani melawan ketidakadilan, menantang arus kekuasaan, dan menggerakkan rakyat untuk berpikir serta bertindak. Kini, semangat itu mulai pudar. Suara keberanian yang seharusnya mengguncang ruang publik tenggelam dalam kenyamanan, kepentingan pribadi, dan rasa takut kehilangan posisi.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana idealisme yang dulu menjadi roh perjuangan generasi muda kini tergerus oleh pragmatisme. Banyak yang memilih diam bukan karena tidak tahu, tetapi karena lebih takut pada konsekuensi sosial daripada ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Padahal, diam di tengah ketimpangan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani dan amanah sejarah.

Masyarakat Lingga masih bergulat dengan berbagai keterbatasan. Di pelosok-pelosok desa, listrik belum menyala penuh, anak-anak masih belajar di bawah cahaya lampu seadanya, nelayan berjuang menjual hasil laut dengan harga yang tidak sepadan, dan petani terus berharap tanahnya digarap dengan lebih baik. Ironisnya, persoalan-persoalan dasar ini sering kali hanya menjadi bahan janji politik tanpa realisasi nyata.

Lebih menyedihkan lagi, suara masyarakat kecil itu jarang sampai ke meja para pengambil keputusan. Bukan karena rakyat tak mau bersuara, melainkan karena corong penyambung aspirasi mereka kini kehilangan gema. Mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan dan jembatan antara rakyat dan pemerintah tampak lebih nyaman berdebat di ruang akademik daripada turun langsung ke lapangan.

Gerakan mahasiswa yang dahulu menjadi motor sosial kini perlahan bergeser menjadi simbol intelektual tanpa tindakan. Kritik disampaikan melalui tulisan, seminar, atau media sosial, namun jarang berlanjut dalam bentuk aksi nyata. Padahal, opini tanpa keberanian bertindak hanya akan menjadi wacana kosong yang tidak menyentuh akar persoalan rakyat. Mereka lupa bahwa rakyat di pelosok-pelosok desa tidak membaca portal berita.

Kampus sejatinya bukan hanya tempat menimbun teori, melainkan juga ruang lahirnya kesadaran kritis dan empati sosial. Mahasiswa yang hanya sibuk mengejar prestasi akademik tanpa kepekaan terhadap realitas sosial sejatinya telah kehilangan makna dari esensi pendidikan itu sendiri. Ilmu pengetahuan tanpa keberpihakan hanyalah kesia-siaan intelektual.

Setiap kali mahasiswa memilih diam, arah perjuangan rakyat menjadi kabur. Setiap kritik yang tidak disertai aksi, setiap ide yang tidak diwujudkan, adalah tanda bahwa nurani mulai menjauh dari realitas. Mahasiswa semestinya bukan hanya menjadi pengamat atau komentator, tetapi pelaku perubahan yang hadir di tengah rakyat.

Rakyat tidak menuntut mahasiswa untuk menjadi pahlawan, tetapi mereka berharap kehadiran yang nyata mendengar, menyuarakan, dan memperjuangkan. Sebab dalam setiap denyut kehidupan masyarakat kecil, ada harapan yang menunggu untuk diperjuangkan oleh mereka yang masih memiliki idealisme dan keberanian.

Ketimpangan sosial di Lingga tidak akan selesai hanya dengan perdebatan di media. Ia membutuhkan keberanian moral dan aksi kolektif dari semua elemen, terutama generasi muda terdidik. Mahasiswa memiliki peran strategis untuk mengawal jalannya kebijakan publik, mengkritisi penyimpangan, dan memastikan bahwa pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.

Jika mahasiswa terus terjebak dalam kenyamanan wacana, maka perjuangan akan kehilangan arah. Rakyat akan berjalan sendiri, sementara suara perubahan tenggelam dalam keramaian yang semu. Mahasiswa perlu kembali menegaskan jati dirinya sebagai penyambung lidah rakyat, bukan sekadar penonton yang pandai berkomentar.

Lingga membutuhkan generasi baru yang berani bersuara, berpikir kritis, dan bertindak nyata. Suara dari Bunda Tanah Melayu tidak boleh hilang hanya karena ketakutan dan ketidakpedulian. Sejarah telah menulis banyak nama besar dari tanah ini; kini giliran generasi muda untuk menulis babak baru dengan tinta perjuangan mereka sendiri.

Sebab bila suara mahasiswa terus diam, maka yang akan menulis sejarah Lingga bukanlah mereka yang berjuang, melainkan mereka yang membiarkan ketidakadilan berulang tanpa perlawanan. Dan ketika itu terjadi, hilanglah suara Bunda Tanah Melayu, bukan karena dibungkam, tetapi karena dilupakan oleh anak-anaknya sendiri.