Tanjungpinang Kerap Dilanda Fenomena Hujan Lokal, BMKG Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi - Hujan Lokal. Gambar ini dibuat dengan AI. (Foto: Freepik)
Ilustrasi - Hujan Lokal. Gambar ini dibuat dengan AI. (Foto: Freepik)

TANJUNGPINANG – Beberapa pekan terakhir, warga Kota Tanjungpinang kerap mengalami fenomena cuaca yang unik. Hujan deras mengguyur satu kawasan, sementara area lain yang hanya sepelemparan batu tetap kering.

Fenomena itu sering disebut sebagai hujan lokal, curah hujan terjadi dalam wilayah yang terbatas, bahkan bisa hanya mencakup satu gang atau lingkungan kecil.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan lokal bakal meningkat di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan ke depan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi akibat interaksi berbagai faktor meteorologis saat masa peralihan musim.

“Intensitas radiasi matahari yang tinggi dari pagi hingga siang memicu proses konvektif. Sehingga awan konvektif lebih mudah terbentuk dan hujan lokal lebih sering terjadi pada sore hingga malam hari,” kata Guswanto dalam keterangan resminya belum lama ini, seperti dilansir dari Insider Indonesia.

Selain itu, kehadiran fenomena atmosfer global Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah selatan Indonesia juga ikut memperkuat pertumbuhan awan hujan. BMKG mencatat gelombang atmosfer lain seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, hingga Low Frequency turut meningkatkan potensi cuaca ekstrem.

Baca Juga: Jom! Ulasan Network Gelar Turnamen Domino Cup II dan Lomba Karya Tulis

Tak hanya itu, BMKG juga memantau bibit siklon tropis 91W di Laut Cina Selatan. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum 15 knots dengan tekanan pusat mencapai 1007 hPa.

“Sistem ini memengaruhi daerah perlambatan kecepatan angin dari Kalimantan hingga Selat Makassar dan Laut Cina Selatan,” kata Guswanto menjelaskan.

BMKG mengungkap bahwa gabungan dari semua faktor tersebut memicu terbentuknya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah. Mulai dari Samudra Hindia barat Sumatra Barat, perairan selatan Banten, hingga Laut Banda. Sirkulasi inilah yang meningkatkan curah hujan dan dapat memicu cuaca ekstrem, meski tidak seluas saat musim hujan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini. Terutama di daerah rawan banjir, longsor, dan hujan lebat yang disertai petir,” kata Guswanto menambahkan.

Di samping potensi hujan lokal, BMKG juga mencatat adanya massa udara kering dari Australia yang menekan curah hujan di wilayah selatan Indonesia.

Fenomena ini menandai awal musim kemarau dan berkontribusi pada peningkatan kecepatan angin serta tinggi gelombang di Laut Andaman, perairan selatan Jawa, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Laut Coral.

BMKG memastikan akan terus memperbarui prakiraan cuaca agar masyarakat tetap waspada dan siap menghadapi potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu. (*)

Ikuti Berita Ulasan.co di Google News