KesehatanOpiniTerkini
Trending

Taruhan Herd Immunity: Bertahan atau Mati?

Oleh Chintya Apulina Surbakti

Tanjungpinang, Ulasan. Co – Hingga hari ini meskipun beberapa pihak telah mengklaim menemukan vaksin dari virus Covid-19, belum ada jaminan keamanan dari vaksin tersebut. Meskipun pemberlakuan social distancing dan physical distancing harus tetap diterapkan dengan maksimal di setiap harinya, nyatanya virus ini terus bermutasi yang membuat kini semua orang mesti mencari cara lain agar keluar dari baying-bayang virus Covid-19 yang mematikan ini. Dalam sepekan terakhir Indonesia mencatat hampir 500 kasus baru per hari. Adapun pada Jumat ini terdapat 634 kasus baru yang apabila diakumuasikan secara keseluruhan sebanyak 20.796 kasus yang menunjukkan bahwa persebaran virus Covid-19 terus meningkat meskipun pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar telah massif dilaksakan oleh berbagai elemen namun tetap saja terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh segelintir masyarakat sehingga membuat Pemerintah harus mencari cara lain untuk menghadang persebaran virus yang mematikan ini.
Adapun beredar kabar di media sosial sebuah narasi yang mengklaim bahwa pemerintah Indonesia berencana akan menerapkan Herd Immunity. Informasi tersebut menyebutkan secara detail disebutkan akan dapat membuka kembali tempat-tempat perbelanjaan umum seperti Mal pada tanggal 8 Juni dan juga sekolah mulai pada tanggal 15 Juni.

Selain itu, juga terdapat informasi terkait dampak yang akan terjadi bila Indonesia menerapkan Herd Immunity. Herd Immunity sendiri terjadi ketika banyak orang dalam satu komunitas menjadi kebal terhadap penyakit menular. Dengan begitu, penyebaran virus tersebut dapat ditekan karena imun tubuh yang mulai beradaptasi dengan virus tersebut. Herd Immunity pada virus corona bisa terbentuk ketika cukup banyak orang yang terinfeksi, dengan kata lain, virus akan dibiarkan terus menyebar sehingga banyak orang terinfeksi dan jika bisa bertahan hidup, ia akan kebal dengan virus tersebut.

Dengan memberlakukan cara ini, tentu sebagian yang terinfeksi akan meninggal, sementara lainnya akan sembuh. Sebagian orang lagi sebagai pembawa virus (carrier), dan sebagian orang yang kontak tapi tidak terinfeksi akan memiliki kekebalan. Pada prinsipnya adalah semakin banyak orang yang tertular, maka semakin banyak pula orang yang akan kebal dan memperoleh imunitas dalam tubuhnya karena mampu beradaptasi dengan virus tersebut. Pada akhirnya, penyakit karena virus tersebut akan hilang ketika mayoritas populasinya telah kebal dari gejala-gejala yang ditimbulkan oleh virus ini.

Sejauh ini, sudah ada beberapa negara-negara internasional yang disebut-sebut telah menerapkan kebijakan Herd Immunity di negaranya . Mereka adalah Swedia, Inggris, dan Belanda. Misalnya di Belanda, masyarakat sudah diperbolehkan berkegiatan di luar ruangan. Sekolah dan kantor sudah kembali buka, bahkan tempat rekreasi juga sudah boleh kembali dikunjungi. Sedangkan hal ini mirip pula yang tengah terjadi di Indonesia. Di mana ada aturan baru yaitu orang yang di bawah 45 tahun boleh kembali beraktivitas di luar rumah. Mal dan pertokoan mulai kembali dibuka dan masyarakat memiliki antusias berlebihan akan hal ini. Begitu juga aturan perjalanan dimana meski mudik tetap tidak diperbolehkan, namun perjalanan dinas diberi kelonggaran asal memenuhi syarat yang ditentukan dan memenuhi protokol kesehatan.
Hal ini jadi pertanyaan banyak pihak, apakah sebenarnya Indonesia tengah menjalaninya atau tidak? Atau sedang mempersiapkan untuk menuju ke arah Herd Immunity tersebut? Hingga kini, belum ada pernyataan khusus dan gambling yang menyatakkan Pemerintah Indonesia menyetujui untuk memberlakukan kebijakan Herd Immunity.

Bila kita belajar dari tahun 2017, ketika Brazil dilanda wabah virus zika dan campak. Mereka menerapkan Herd Immunity dan langkahnya terbukti bisa mengakhiri penyebaran penyakit tersebut.  Namun pada kasus Covid-19 ini hanya bisa efektif apabila karakter dari virus dan prediksi evolusi virus tersebut sudah bisa diketahui dengan pasti. Saat ini, kasus virus SARS-CoV-2 masih terus berevolusi dengan cepat. Bahkan belum ada yang bisa memastikan perjalanan mutasi virus ini akan menjadi seperti apa.  Oleh karena itu, kebijakan Herd Immunity dinilai terlalu spekulatif dan berbahaya bagi masyarakat, khususnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat di Indonesia memiliki daya tahan tubuh dan status nutrisi yang rendah. Herd Immunity dalam kasus virus corona dinilai kurang tepat karena imunitas yang terbentuk tidak memiliki jangka yang panjang. Sebagai contoh kasus pada bulan Februari lalu seorang pria Jepang yang berusia 70 tahun yang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19. Akan tetapi, setelah beberapa waktu kemudian ia dikabarkan kembali terjangkit virus yang sama.  Padahal dalam teorinya, berhasilnya Herd Immunity adalah jika tubuh kebal dengan virus yang telah menginfeksi dirinya. Sedangan dalam kasus ini, berarti orang tersebut tidak kebal dengan virus corona.
Jika cara ini diberlakukan di Indonesia, maka dikhawatirkan akan banyak orang yang terinfeksi dan jatuh sakit parah secara cepat. Selain itu, banyak orang yang akan jatuh meninggal, terutama mereka yang ada di kelompok umur rentan dan memiliki penyakit bawaan.  Bayangkan jika hal itu terjadi, petugas kesehatan akan sangat kewalahan mengobati dan merawat mereka yang tak mampu bertahan membentuk kekebalan virus corona karena virus telah sengaja disebar secara massal di tengah masyarakat di mana sistem kesehatan di Indonesia masih tergolong memiliki ketahanan yang rendah. Dengan begitu, tenaga kesehatan akan tumbang dengan cepat.

Secara tidak langsung, korban akan banyak berjatuhan juga dari kalangan tenaga kesehatan seperti perawat dan dokter sehingga kebijakan ini dianggap mempertaruhkan segala hal karena melibatkan nyawa manusia. Untuk mencapai pembentukan Herd Immunity, dibutuhkan sekurang-kurangnya sekitar 182 juta rakyat Indonesia yang terinfeksi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk senior di Indonesia sekitar 10%. Menggunakan asumsi tersebut, permodelan kelompok rentan yang harus mendapat penanganan khusus mencapai 18,2 juta jiwa. Hal itu belum ditambah dengan kelompok rentan lainnya yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kanker, HIV, dan lainnya.  Jika dihitung dari persentase kematian karena Covid-19 yaitu 8,9%, maka Indonesia akan kehilangan sekitar 16 juta jiwa dari total 182 juta jiwa sehingga patut lah kita menganggap kebijakan ini sebagai kebijakan penyembuhan dan pembunuhan massal karena setidaknya dengan cara ini 50 persen penduduk yang terpapar virus Covid-19 akan beradaptasi sehingga kebal terhadap gejala-gejala yang ditimbulkan oleh virus mematikan tersebut sedangkan 50 persennya lagi mereka-mereka yang tidak memiliki imun yang mampu beradaptasi dengan virus tersebut sehingga cara ini dianggap sangat berbahaya untuk diberlakukan di Indonesia.

Meskipun belum terlihat akhir dari perserbaran virus ini kapan berhentinya, namun para ilmuwan di seluruh dunia tengah berusaha membuat vaksin secepat dan setepat mungkin. Sementara itu, kita semua bisa menekan penyebarannya dengan tetap tertib dan patuh melakukan social distancing dengan menjaga jarak, virus dan penyakit apapun yang dimiliki orang lain tidak bisa mengenai kita. Selain itu, jaga kebersihan diri terutama setelah menyentuh barang yang mungkin terpapar oleh virus.
Cara lain menekan angka penyebarannya adalah melakukan contact tracing. Jika ada yang positif, maka semua yang pernah kontak dengannya harus diisolasi sebanyak mungkin. Jika hal ini tidak dilakukan, berarti sama saja membiarkan kemungkinan orang yang melakukan kontak dengan pasien positif bebas ke mana saja.  Dengan kata lain, melakukan social distancing tanpa contact tracing maksimal hanya akan berakhir sia-sia. Jadi, untuk saat ini wacana akan diberlakukannya Herd Immunity akan sangat mengorbankan banyak hal karena pertaruhan judinya yang begitu besar dan berbahaya.

Tags

Related Articles

Back to top button
Close