Usaha Cakwe Pak Abung Bertahan di Tengah Gempuran Persaingan dan Naiknya Harga Bahan Pokok

Usaha cakwe makanan tradisional asal Tionghoa milik Abung, di depan Pinang Lestari, Batu 9 Tanjungpinang. (Foto: Boston)

TANJUNGPINANG – Di tengah maraknya usaha kuliner modern yang bermunculan, usaha cakwe makanan tradisional asal Tionghoa masih bertahan di sejumlah sudut Kota Tanjungpinang. Salah satunya adalah lapak cakwe milik Pak Abung, yang berjualan di depan Pinang Lestari, Batu 9.

Sudah lebih dari dua dekade, pria yang akrab disapa Pak Abung itu menekuni usaha sederhana ini. Berawal dari berjualan di kawasan malam hingga akhirnya menetap di lokasi sekarang selama lima tahun terakhir.

“Kalau dihitung-hitung, sudah sekitar 23 tahun saya jualan cakwe. Dari tempat pertama sampai sekarang,” ujar Abung saat ditemui, Kamis, 30 Oktober 2025.

Setiap hari, ia mulai berjualan sekitar pukul dua siang dan baru menutup lapak setelah dagangannya habis. Cakwe buatannya dikenal renyah dan gurih, hasil olahan sendiri menggunakan bahan seperti tepung gandum, garam, minyak, roti, dan soda kue.

Namun, belakangan penjualan mulai menurun. Dalam sehari, omzetnya kini berkisar Rp600 ribu, jauh di bawah hari-hari ramai sebelumnya.

“Sekarang pembeli sudah berkurang. Banyak saingan baru, apalagi setelah ada tempat makan baru. Semua pedagang kecil kena imbasnya,” ujarnya.

Selain persaingan, kenaikan harga bahan pokok juga menjadi tantangan tersendiri. Hampir semua bahan mengalami peningkatan harga, mulai dari tepung, minyak, garam, hingga gula.

“Tepung naik, minyak naik, garam naik, semua naik sekarang,” keluhnya.

Meskipun begitu, harga jual tetap dipertahankan agar pelanggan tidak terbebani. Satu potong cakwe dijual Rp2.500.

Abung juga memastikan produknya aman dikonsumsi. Ia menegaskan tidak lagi menggunakan bahan tambahan seperti amonia yang dulu sempat dipakai sebagian pedagang.

“Sekarang sudah tak pakai amonia lagi, dulu sempat pakai,” katanya.

Meski persaingan kian ketat dan kondisi ekonomi belum stabil, semangat Abung untuk bertahan tak surut. Ia mengaku belum terpikir membuka usaha lain dan memilih tetap menjalani pekerjaannya dengan tekun.

“Sudah tua, mau kerja apa lagi. Jalani aja yang ada. Mudah-mudahan jualannya makin ramai,” tuturnya sambil tersenyum.

Usaha sederhana seperti milik Abung menjadi potret keteguhan pelaku usaha kecil di Tanjungpinang yang terus berjuang mempertahankan cita rasa tradisional di tengah perubahan zaman.