ACEH – Kondisi warga dan pengungsi yang terdampak banjir besar di Sumatera terus memburuk. Setiap hari, rumah yang hancur dan akses jalan yang terputus membuat jalur bantuan semakin lambat, sehingga warga kian terjepit oleh keadaan.
Riski, warga Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang mengungkap bahwa situasi di wilayahnya kini semakin tidak kondusif. Ia menegaskan bahwa sebagian besar warga telah kehilangan segalanya dan sangat membutuhkan bantuan, terutama makanan.
Terpaksa Minum Air Sungai dan Genangan Hujan
Salah satu masalah paling krusial yang kini menjerat Aceh Tamiang adalah ketiadaan air bersih. Banyak warga akhirnya terpaksa meminum air sungai maupun air hujan yang menggenang.
“Kalau sekarang air sudah kering sekali, sudah tandus, jadi sekarang muncul debu dari hasil lumpur banjir,” kata Riski seperti dilansir dari laman Kompas.com.
Meski begitu, Riski merasa beruntung karena rumahnya tidak hancur. Namun, ia menuturkan bahwa pada kejadian Rabu (26/11/2025) lalu, air sempat merendam rumahnya hingga mencapai atap.
“Alhamdulillah rumah masih kokoh, tetapi di kawasan rumah kami ada rumah hancur dan hanyut, mobil hanyut, tinggi kali airnya,” ujarnya.
Baca Juga: Data Terbaru BNPB: Korban Tewas Bencana Sumatra Tembus 753 Orang, 3,3 Juta Jiwa Terdampak
Menurutnya, stok sembako di Aceh Tamiang sudah habis karena pusat ekonomi di wilayah tersebut lumpuh total.
Ia menyebut bahwa bantuan memang sudah mulai masuk, namun sangat terbatas. “Bantuan sudah mulai masuk dari helikopter satu kemarin. Pasti kurang karena orang sudah terjebak seminggu. Kami di sini lapar, makanan kurang, apalagi air bersih memang tidak ada,” ucapnya.
Sementara itu, Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, Agusliyana Devita, membenarkan bahwa banyak warga masih berada di pengungsian.
“Karena rumahnya (warga) banyak yang hilang dan rusak parah serta masih banyak genangan lumpur,” katanya.
Agusliyana juga menambahkan bahwa pasokan air bersih sangat terbatas karena jaringan air belum berfungsi. Akibatnya, beberapa warga terpaksa mengonsumsi air sungai dan air hujan.
“Bukan air bekas banjir, tetapi air sungai dan air hujan yang masih tergenang, tetapi keruh tidak jernih. Kalau air banjir, sudah pada surut saat ini,” ujarnya.
Warga Bireuen Kekurangan Obat
Kesulitan serupa juga dialami para pengungsi di Kabupaten Bireuen, Aceh. Saat ini, ribuan pengungsi mulai kehabisan obat-obatan sementara kondisi tubuh mereka semakin melemah.
Anas, warga Meunasah Blang Bireuen, mengungkap bahwa pengungsi, baik anak-anak maupun dewasa, mulai terserang penyakit seperti gatal-gatal, flu, demam, dan batuk.
“Obat-obatan sangat sulit didapatkan oleh pengungsi. Tidak ada petugas medis di lapangan, Pustu, Polindes, dan Puskesmas juga terdampak banjir,” kata Anas yang kini menjadi relawan secara mandiri.
Sebagai relawan, ia menjelaskan bahwa keluhan pengungsi serupa di setiap posko. Selain obat-obatan, pengungsi juga mengeluhkan stok makanan dan air minum yang mulai menipis.
“Untuk stok pangan masih, meskipun menipis. Masih cukup untuk dua hari ke depan. Alas tidur, selimut, kain sarung, masker, obat-obatan, dan air minum, itu paling mendesak,” ujarnya.
Anas menambahkan bahwa jumlah pengungsi di Bireuen kini mencapai 15.755 KK atau 63.950 jiwa yang tersebar di 185 desa atau posko.
Baca Juga: Kogabwilhan I Dirikan Posko dan Gelar BMS di Pinang Sori, Percepat Penanganan Bencana Alam
Meskipun banjir sudah mulai surut, warga masih bertahan di pengungsian karena rumah mereka dipenuhi lumpur tebal.
“Meskipun banjir sudah surut, rumah-rumah masih dipenuhi lumpur dan sulit dibersihkan. Apalagi PDAM lumpuh total, jadi warga kesulitan mendapat air,” tuturnya.
Ia juga mengungkap bahwa hingga saat ini beberapa desa masih terisolasi karena akses jalan rusak berat. Kondisi tersebut membuat mobilisasi bantuan berjalan sangat lambat.
Menurutnya, satu-satunya cara mengirim sembako adalah menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai dan melewati jalan setapak berlumpur.
“Ada enam desa di Kecamatan Peusangan Selatan yang masih terisolasi kerena jembatan ambruk. Kemudian, di Kecamatan Julia ada tiga desa karena ambruknya Jembatan Cot Mane (Jalan Bireuen-Tekengon),” tuturnya.
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















