JAKARTA – Dua platform media sosial terbesar di Indonesia, yaitu Facebook dan Instagram, kembali menjadi sorotan publik.
Pasalnya, sebuah laporan terbaru dari Reuters mengungkap bahwa kedua platform tersebut justru mendapatkan keuntungan besar dari iklan penipuan dan barang terlarang. Dengan temuan ini, publik pun semakin diminta berhati-hati saat berselancar di dunia maya.
Menurut laporan yang dirilis awal bulan ini, sekitar 10 persen dari pendapatan Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram. Ternyata berasal dari iklan yang mempromosikan penipuan serta barang ilegal.
Angka itu, yang setara dengan US$16 miliar atau sekitar Rp266 triliun, menunjukkan skala persoalan yang sangat besar.
Selain itu, dokumen internal yang diperoleh Reuters juga mengungkap bahwa Meta diduga gagal menghentikan banjir iklan bermasalah tersebut selama tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Modus Baru Teroris Menjerat Anak Lewat Gim Online, Orang Tua Wajib Waspada
Gelombang iklan itu bahkan muncul di tiga platform: Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Dengan skema penipuan mulai dari e-commerce, investasi, judi online, hingga penjualan produk medis terlarang.
Dalam salah satu dokumen bertanggal Desember 2024, diketahui bahwa Meta rata-rata menayangkan sekitar 15 miliar iklan penipuan setiap hari. Dokumen lain juga menyebut bahwa Meta meraup US$7 miliar per tahun dari iklan kategori scam tersebut.
Walaupun banyak pengiklan menunjukkan tanda-tanda mencurigakan, Meta disebut hanya akan melarangnya jika sistem otomatis memprediksi bahwa mereka setidaknya 95 persen pasti melakukan penipuan. Standar yang tinggi ini diduga membuat banyak iklan scam tetap lolos tayang.
Temuan itu pun langsung memicu reaksi keras dari dua senator Amerika Serikat, Josh Hawley dan Richard Blumenthal. Keduanya meminta Komisi Perdagangan Federal (FTC) serta Komisi Sekuritas Bursa (SEC) untuk segera turun tangan.
“FTC dan SEC harus segera membuka penyelidikan dan, jika laporan itu akurat. Melakukan penegakan hukum secara tegas bila diperlukan untuk memaksa Meta mengembalikan keuntungan, membayar denda, dan menghentikan penayangan iklan semacam itu,” demikian bunyi surat Hawley dan Blumenthal, melansir Reuters.
Mereka juga mempertanyakan keseriusan Meta dalam menekan iklan ilegal, terutama setelah menelusuri ‘Ad Library’, yaitu basis data publik yang menampilkan semua iklan di platform Meta.
“Bahkan tinjauan singkat terhadap Ad Library Meta pada saat surat ini dikirim menunjukkan iklan yang jelas-jelas mempromosikan judi ilegal, penipuan pembayaran, penipuan kripto, layanan seks deepfake berbasis AI, dan tawaran palsu manfaat federal,” tulis mereka.
Baca Juga: Hati-Hati! WhatsApp dan Gmail Kini Jadi Sarang Rampok Digital, Ini Modus Penipuannya
Kedua senator itu pun kembali mengutip laporan Reuters yang menyebut bahwa Meta diduga terlibat dalam sepertiga total kasus penipuan di AS. Selain itu, mereka juga mengaitkannya dengan estimasi FTC yang menyatakan warga AS merugi hingga US$158,3 miliar akibat penipuan pada tahun sebelumnya.
Dalam surat itu, Hawley dan Blumenthal bahkan menuding Meta secara sadar menerima iklan dengan potensi scam demi keuntungan.
“Scam telah diizinkan mengambil alih Facebook dan Instagram karena Meta memangkas drastis staf keamanannya. Termasuk untuk peninjauan yang diwajibkan FTC, bahkan ketika perusahaan menggelontorkan dana besar untuk proyek AI generatifnya,” ujar keduanya.
Lebih jauh lagi, mereka menyoroti meningkatnya iklan yang mengatasnamakan pemerintah atau tokoh politik. Salah satu contohnya adalah iklan palsu yang mengklaim Presiden Donald Trump memberikan US$1.000 kepada penerima bantuan pangan.
“Walaupun Meta telah diperingatkan soal iklan deepfake yang meniru politisi, perusahaan tetap menayangkan cuplikan penipuan tersebut,” demikian isi surat itu.
Kedua senator juga menegaskan bahwa banyak pelaku di balik skema penipuan ini berasal dari China, Sri Lanka, Vietnam, dan Filipina, yang disebut sebagai kelompok kejahatan siber internasional.
Menanggapi laporan Reuters, Meta mengklaim telah berhasil mengurangi laporan penipuan dari pengguna sebesar 58 persen dalam 18 bulan terakhir. Selain itu, terkait tekanan dari Hawley dan Blumenthal, Meta menilai tuduhan tersebut terlalu berlebihan.
“Kami secara agresif memerangi penipuan dan scam karena orang di platform ini tidak menginginkan konten ini. Pengiklan yang sah tidak menginginkannya, dan kami pun tidak menginginkannya,” kata Andy Stone, Juru Bicara Meta.
Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


















