Disdik Kepri Upayakan Bangun Kelas Baru di Sekolah Terapkan Belajar Online

Kadisdik Kepri
Kadisdik Kepri Andi Agung. (Foto: Muhammad Chairuddin)

BATAM – Dinas Pendidikan (Disdik) Kepulauan Riau (Kepri) akan mengupayakan pembangunan kelas baru untuk sekolah yang menerapkan pembelajaran online di Batam.

Misalnya Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 dan SMAN 3 Batam. Sebab, kedua sekolah itu melebihi daya tampung.

“Sebenarnya, Pemprov Kepri sudah membenahi sarana dan prasarana setiap tahun, itu keputusan yang sulit. Dengan demikian, kita akan menggesa penambahan lokal. Tentunya tetap memenuhi standar bangunan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kepri, Andi Agung.

Andi Agung menilai, pengambilan keputusan dengan memberikan kelas online di kedua sekolah tersebut bukanlah hal yang diinginkan.

Namun, tekad orang tua murid bersikukuh menyekolahkan putra-putrinya di sekolah tersebut. Pasalnya, menurut mereka kedua sekolah itu unggulan, merupakan salah satu penyebab adanya kelas online.

Ia menjelaskan, hal itu merupakan sikap yang harus diambil oleh Pemprov Kepri pasca Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kemarin.

Menurutnya, penambahan kelas itu adalah solusi untuk dua sekolah yang memiliki jumlah siswanya telah membludak hampir setiap tahun.

Hal itu dikarenakan, orang tua murid masih bertahan di sekolah, meski anaknya sudah tidak bisa diterima dari jalur zonasi.

Pihaknya juga menyadari apa yang disampaikan oleh Ombudsman RI perwakilan Provinsi Kepri. Namun, yang terjadi dilapangan, kemauan keras para orang tua sulit dihindari.

“Bicara sekolah unggulan, hampir semua sekolah di Batam sudah memiliki fasilitas yang memadai dibanding dengan kota lain di Kepri. Hanya saja orang tua masih punya tekad kuat menyekolahkan anaknya di sekolah yang mereka mau,” ucap Andi Agung.

Baca juga: Siswa Baru SMA Negeri 1 dan 3 Batam Membludak, Disdik Putuskan Buka Kelas Online

Perihal Permendikbud, Andi tidak menepis adanya pelanggaran dari Dinas Pendidikan Provinsi Kepri. Akan tetapi, hal itu karena pihaknya sulit mengatur kemauan orang tua murid.

“Kita sampaikan sampai 4 hari, kita tidak layani, apakah harus terus seperti itu (orang tua bertahan di sekolah).Tentunya ada langkah-langkah. Kalau tidak dilayani, nanti ribut lagi, demo lagi. Otomatis kita terimalah,” ungkap Andi Agung. (*)

Ikuti Berita Lainnya di Google News