JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menukik tajam pagi ini, Selasa, 25 Maret 2025. Rupiah pun langsung terperosok ke level Rp16.635 per US$.
Dilansir dari cnbcindonesiacom, pada pukul 10:13 WIB, nilai rupiah tampak ambles sebesar 0,51% diangka Rp16.635/US$. Jika rupiah ditutup di level saat ini, maka menjadi yang terparah setelah 1998 (berdasarkan closing candle).
Pada Sabtu, 23 Maret 2025 kemarin, penutupan perdagangan nilai rupiah ditutup pada level Rp16.550/US$.
Sedangkan indeks dolar AS (DXY) tampak menguat tipis sebesar 0,07% pada pagi hari ini setelah sebelumnya ditutup secara konsisten di zona positif sejak 19 Maret 2025.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menjelaskan pelemahan rupiah kali ini terjadi bersamaan dengan aksi profit taking investor mengantisipasi libur Panjang. “Mereka khawatir ada uncertainty terutama pada saat libur Panjang,” jelasnya.
Sedangkan dari sisi eksternal, Myrdal menyampaikan bahwa soal perkembangan perang dagang antara AS dengan Meksiko dan Kanada yang mulai berlaku tanggal 2 April 2025 menjadi faktor lainnya.
Masih kata Myrdal, kebutuhan akan dolar yang tinggi untuk periode akhir bulan, untuk bayar Utang Luar Negeri (ULN), ataupun membayar impor termasuk impor BBM menjadi faktor tertekannya rupiah belakangan ini.
Keluarnya dana asing ini juga dipertegas oleh Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana yang menyampaikan bahwa terdapat switching asset sebelum libur lebih panjang di market Indonesia.
“Sudah hampir 7 hari perdagangan net sell asing terus, kemungkinan mereka memang memindahkan dananya ke USD,” papar Fikri.
Selain itu, tambah Fikri, ada kemungkinan permintaan USD, untuk pembagian dividen dan pembayaran hutang pemerintah diakhir 1Q.
Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) merilis data transaksi 17-20 Maret 2025, investor asing tercatat jual neto sebesar Rp4,25 triliun, terdiri dari jual neto Rp4,78 triliun di pasar saham, beli neto Rp1,20 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan jual neto Rp0,67 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama 2025, berdasarkan data setelmen sampai dengan 20 Maret 2025, investor asing tercatat jual neto sebesar Rp28,10 triliun di pasar saham, beli neto Rp23,87 triliun di pasar SBN dan Rp8,58 triliun di SRBI.
Senada dengan Myrdal dan Fikri, Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang juga menjelaskan bahwa rupiah tertekan dari berbagai arah, didorong oleh meningkatnya permintaan dolar menjelang akhir kuartal dan libur panjang.
“Kebijakan tarif Trump menambah ketidakpastian global, sementara pengumuman personel Danantara meningkatkan skeptisisme pasar,” ujar Hosianna.
“Kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal dan perlambatan ekonomi menekan pasar saham dan obligasi. Sementara ada indikasi Bank Indonesia mengurangi intervensinya dibandingkan pekan lalu,” tambah Hosianna.
“Dengan faktor-faktor ini, rupiah diperkirakan sulit menguat, dan USD/IDR berpotensi menguji level resistensi 16.600 menjelang libur panjang dan jatuh tempo DNDF besar minggu ini,” pangkasnya.
Begitu pula dengan pernyataan Ekonom Senior Bank Central Asia, Barra Kukuh Mamia yang mengungkapkan soal tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal setidaknya untuk jangka pendek ini.
“Sebetulnya, walaupun valuasi equity kita drop, secara makro persepsi risiko ke pasar bonds dan valas seharusnya masih cukup OK. Ada kesempatan untuk equity-nya yang rebound, konvergen ke fundamental makronya. Tapi di tengah ketidakpastian global saat ini jadi terhambat konvergensinya itu,” kata Barra.
Dia menambahkan faktor terbesar adalah kebijakan Donald Trump mengenai pemberlakuan tarif resiprokal perdagangan Amerika Serikat pada 2 April mendatang.
“Masih ada lanjutan sentimen negatif mungkin ya. Ini kan menghitung hari ke tanggal 2 April, tarif resiprokalnya Trump,” ujar Barra.
Hal menarik lainnya disampaikan oleh Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang yang mengutarakan bahwa kombinasi keluar dari equity dan bondmarket menjadi alasan pelemahan rupiah.
Ia juga mengatakan bahwa keluarnya investor dari pasar Tanah Air diperkirakan masuk ke pasar di AS karena investor melihat ketidakpastian di Indonesia.