Waspadai Angin Kencang Tiba-Tiba dan Gelombang Laut 2 Meter di Pulau Bintan

BMKG: Cuaca Cerah Berawan, Waspada Munculnya Titik Api dapat Memicu Karhutla
Kantor BMKG Tanjungpinang, Kepri (Foto: ulasan.co)

TANJUNGPINANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hujan dan angin kencang secara tiba-tiba, serta ketinggian gelombang laut mencapai dua meter di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Senin (31/07).

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Vivi Putrima A mengeluarkan peringatan dini agar mewaspadai potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus penghasil hujan dengan intensitas ringn-sedang yang dapat disertai petir/angin kencang secara tiba-tiba.

“Waspada adanya gelombang tinggi pada hari ini di perairan sebelah timur dan utara Pulau Bintan yang dapat mencapai ketinggian maksimum 2.0 meter,” kata Vivi dalam keterangan tertulisnya diterima.

Secara keseluruhan kondisi cuaca hari ini di Pulau Bintan, kata dia, berpotensi berawan sepanjang hari. Kemudian pada 01 Agustus 2023 berpotensi berawan sepanjang hari dan berpotensi hujan ringan pada siang hari di daerah Trikora dan Kijang. Sementara pada 02 Agustus 2023, kata dia, berpotensi terjadi hujan ringan sedang pada pagi dan siang hari.

Berdasarkan analisis cuaca skala global dan regional (El Nino-Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), dan Madden- Julian Oscillation (MJO)) tidak memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah Pulau Bintan.

Kondisi Sea Surface Temperature atau SST yang bernilai positif masih memberikan pengaruh terhadap pembentukan awan-awan konvektif di wilayah Pulau Bintan. Aliran udara di sekitar wilayah Pulau Bintan masih didominasi oleh daerah pertemuan angin (konvergensi) dan belokan angin (shearlin) dapat mendukung pembentukan awan konvektif penghasil hujan.

Baca juga: BMKG: Waspada Gelombang Laut 2,5 Meter di Perairan Bintan

Analisis cuaca skala lokal dimana relative humidity (RH) relatif kering dilapisan atas menandakan kurangnya pasokan uap air di udara sebagai sumber pembentukan awan konvektif, namun labilitas atmosfer (Showalter Index (SI), Lifted Index (LI), dan K-Index (KI)) dalam kondisi labil yang artinya masih ada potensipertumbuhan awan Cumulonimbus. (*)

Ikuti Berita Lainnya di Google News