IndexU-TV

Pejuang Pendidikan di Masa Pandemi

Pembelajaran dari rumah ke rumah yang diterapkan guru SDN 012 Lingga Utara, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Ulasan. Co – Pendidikan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan di setiap Negara. Melalui pendidikan yang baik, tentunya akan melahirkan penerus bangsa yang baik juga. Dengan demikian peran pendidikan dalam kehidupan tentunya sangat penting dan tidak dapat diacuhkan begitu saja. Dengan peran yang penting itulah, pendidikan wajib untuk terus berlangsung walau dengan kondisi apapun termasuk pada masa pandemic Covid-19 saat ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Sementara tujuannya ialah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam UU No. 2 Tahun 1985. Sejalan dengan itu, menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan begitu, sudah dapat dipastikan pentingnya pendidikan bagi bangsa dan Negara serta peserta didik itu sendiri.

Pembelajaran dari rumah ke rumah yang diterapkan guru SDN 012 Lingga Utara, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Di Indonesia, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan melalui surat edaran No. 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Dengan begitu, pemerintah RI menerapkan pembelajaran daring disetiap tingkatan pendidikan tanpa terkecuali. Dengan adanya penerapan pembelajaran daring itulah hadir berbagai konflik yang mau tidak mau harus diterima dan dihadapi oleh setiap pelaku pendidikan. Hal itu tentunya demi keselamatan diri masing-masing agar tehindar dari virus Covid-19.

Penerapan pembelajaran daring itu berlaku di seluruh Indonesia, termasuk juga di Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Dengan jaringan internet yang kurang memadai serta tingkat perekonomian yang masih terbilang rendah, pembelajaran harus tetap berjalan meski di masa pademi Covid-19 seperti saat ini. Hal ini yang memaksa para tenaga pelaku pendidikan khususnya penyedia pendidikan seperti tenaga pendidikan harus memutar otak dan memberikan usaha lebih keras agar pembelajaran tetap berlangsung. Hal itu juga berarti para tenaga pendidik mendapat tantangan baru bagaimana pembelajaran tetap berjalan walau serba kekurangan.

Berbeda dengan daerah lainnya, pembelajaran di masa pandemi covid-19 di kabupaten tersebut sangatlah unik. Dengan bermodalkan peralatan seadanya, para tenaga pendidik atau guru khususnya di Kecamatan Lingga Utara harus menjalankan pembelajaran secara Door to Door atau dengan kata lain dari rumah ke rumah. Dengan semangat yang menggebu, para guru menyisir rumah demi rumah anak muridnya. Hal ini tentunya menjadi hal positif yang pantas untuk diapresiasi oleh pemerintah. Tanpa kenal lelah serta tetap mematuhi protokol kesehatan, para tenaga pendidik mengajar dari rumah ke rumah siswanya dan dimulai sejak pagi hari. Perjalanan penuh pengabdian itu pun tentunya tidak berjalan mulus begitu saja. Berbagai hambatan kerap kali hadir dalam perjalanan itu. Tidak jarang, para guru dihadapi dengan kondisi cuaca yang kerap berubah-ubah. Hujan petir dan panas terik tentunya sudah menjadi teman sehari-hari dalam perjalanan mengabdi.

Tentunya banyak sekali kendala selama belajar dari rumah ke rumah hingga belajarnya tidak maksimal bagi guru maupun peserta didiknya. Selain itu, waktu juga habis dalam perjalanan peserta didik, tidak terkontrol cara belajarnya apalagi dari pihak orang tuanya tidak ambil alih dalam hal belajar anak di rumah, hingga pembelajaran tidak terarah sesuai dengan yang diharapkan.

Mirisnya, para guru menjalankan aktivitasnya itu tanpa difasilitasi oleh pemerintah. Dengan modal sendiri dan seadanya serta tenaga, satu persatu siswa dikunjungi untuk menyampaikan materi. Padahal seharunya, pemerintah mejadi pihak garda terdepan yang mendukung seluruh usaha para pejuang pendidikan ini, terlebih lagi pada mas pandemi covid-19 seperti saat ini yang telah mempengaruhi berbagai sektor dalam kehidupan.

Meskipun demikian, para tenaga pendidik tersebut ikhlas menjalankan tugasnya dengan harapan, apa yang mereka lakukan saat ini tidak sia-sia serta dapat melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas guna membangun Indonesia lebih baik lagi.

Editor: Udin

Exit mobile version