Pengamat: Anggota DPRD Kepri dan Batam Terkesan Abai ke Warga Rempang

Pengamat kebijakan publik, Alfiandri. (Foto; Muhammad Chairuddin/Ulasan.co)

TANJUNGPINANG – Pengamat Ilmu Kebijakan Publik Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Alfiandri, menilai wakil rakyat terkesan bungkam terkait polemik dialami warga Pulau Rempang, Kecamatan Galang, Kota Batam.

Wakil rakyat yang seharusnya hadir bagi warga Pulau Rempang. Namun sayang, hingga sekarang tidak kelihatan suara lantang anggota legislator itu saat dibutuhkan rakyat, baik anggota DPRD Kepri dan Kota Batam terkait polemik dialami warga setempat.

Alfiandri menyangkan adanya bentrokan antara aparat tim terpadu dengan warga Rempang. Bentrokan itu terjadi, karena sejak awal negara tidak hadir bagi masyarakat.

“Seharusnya sejak awal-awal negara itu turun ke warganya, menjelaskan akan adanya investasi. Lakukan pendekatan kultural, sosiologis serta religius. Namun, itu semua tidak dilakukan. Jadinya sekarang, apa investasi membawa musuh bagi warga Kepri,” kata Alfiandri kepada Ulasan.co, Jumat (8/9).

Lebih lanjut, kata dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menilai hal itu terjadi karena lemahnya perhatian legislatif bahkan eksekutif di Kepri terhadap permasalahan Rempang. Masyarakat memandang bahwa negara tidak pro terhadap rakyat melainkan kepada asing.

Ia menganggap, selama ini investasi khususnya dari negara Cina di Kepri, tidak begitu menguntungkan bagi warga tempatan. Melainkan, para investor justru masih mempekerjakan, para pekerjanya dari Cina.

“Tidak begitu berdampak juga investasi yang ada di Kepri saat ini. Sudah terbukti. Apa yang sudah dibangun investor Cina, justru sering kali kedapatan pekerjanya pun berasal dari negara mereka,” ujarnya.

Dirinya meyakini, bahwa masyarakat Kepri kecewa atas kejadian yang terjadi di Rempang, Galang saat ini. Ketidakhadiran legislatif bahkan eksekutif tentu menambah keyakinan bahwa negara lebih berpihak terhadap investasi asing dari pada melindungi warganya.

“Konstitusi sudah mengatur kok, negara itu wajib melindungi rakyatnya, tumpah darah Indonesia. Ternyata kebalikan justru semuanya diam dan tidak hadir di tengah-tengah rakyat Rempang yang merasa tersakiti,” tegasnya.

Baca juga: Tim Terpadu Akan Dirikan 2 Posko Pengamanan di Pulau Rempang

Baca juga: Kapolresta Barelang Minta Maaf Atas Insiden Gas Air Mata ke Sekolah

Sebagai diketahui, bentrokan terjadi antara aparat tim terpadu dengan warga Pulau Rempang saat ingin memasang pematokan lahan, Kamis (07/08).

Sedikitnya 10 siswa dan satu guru menjadi korban terkena gas air mata saat kericuhan berlangsung. Selain itu beberapa orang warga diamankan petugas karena dianggap sebagai provokator. (*)

Ikuti Berita Lainnya di Google News