Cegah Massa BEM SI ke Istana, Jalan Merdeka Barat Ditutup

Cegah Massa BEM ke Istana, Jalan Merdeka Barat Ditutup
Korps Sabhara memasang barikade dan kawat berduri, didukung dengan ratusan personel yang bersiaga di Jalan Medan Merdeka Barat guna mencegah massa aksi bergerak ke arah Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis. Foto: Antara

Jakarta – Aparat Kepolisian dan TNI menutup Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat untuk mencegah ratusan mahasiswa dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), bergerak menuju Istana Negara.

Pantauan ANTARA di lokasi, Kamis (21/10), Korps Sabhara telah memasang barikade dan kawat berduri, didukung dengan ratusan personel yang bersiaga, di Jalan Medan Merdeka Barat tepatnya di depan Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Baca juga: Unjuk Rasa Pembekuan BEM Hukum Universitas Bengkulu Ricuh

Aksi mahasiswa ini dilaksanakan untuk menyampaikan 12 tuntutan terkait tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sebelumnya, arus lalu lintas di Bundaran Patung Kuda Monas sempat tersendat karena ratusan mahasiswa dari Universitas Indraprasta PGRI nekat menutup jalan protokol.

Hingga berita dilaporkan pada pada pukul 14.15 WIB, mahasiswa masih tertahan di Jalan Medan Merdeka Barat. Penutupan jalan pun dilakukan secara situasional.

Polres Metro Jakarta Pusat dibantu aparat TNI sebelumnya telah melakukan persiapan pengamanan untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan.

“Ada 2.149 personel gabungan,” kata Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat AKP Sam Suharto.

Baca juga: Polri Persilakan BEM UI Laporkan Peretasan Akun

Sementara itu, Koordinator Pusat Aliansi BEM SI Kaharuddin mengatakan lebih dari 500 mahasiswa turun ke jalan untuk menyampaikan 12 tuntutan kepada Presiden Joko Widodo yang telah menjabat selama tujuh tahun sejak 2014.

“Bertepatan dengan 20 Oktober 2021, tujuh tahun sudah Jokowi memimpin pemerintahan negeri ini. Namun banyak janji-janji kampanye yang harus dipenuhi,” kata Koordinator Pusat Aliansi BEM SI Kaharuddin di kawasan silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis.

Kaharuddin menyampaikan ada 12 tuntutan yang disampaikan, antara lain mendesak pemerintah untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah pengganti untuk membatalkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Mahasiswa juga menuntut diberhentikannya Firli Bahuri sebagai Ketua KPK dan mengembalikan marwah lembaga tersebut dalam agenda pemberantasan korupsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *