Opini

LUKMANUL HAKIM : EPISODE PANDEMI COVID 19 DENGAN DARING

Tanjungpinang, ulasan.co – Surat edaran pemerintah untuk institusi pendidikan diliburkan akibat covid 19 berlaku mulai pertengahan Februari 2020 sejak terjadinya wabah virus corona atau Covid 19 di Wuhan, Kota Hubei yang merupakan salah satu kota di Negara Cina, Provinsi Tiongkok.

Kita semua tau bahwa Negara China adalah Bapak Teknologi masa kini dan salah satu Negara Adidaya setelah Amerika.

Covid 19 awalnya terjangkit di Wuhan, menular hampir seluruh kota di China yang kemudian menjangkiti di berbagai belahan dunia.

Negara-negara besar seperti Amerika, Italia, Belanda, Eropa, Korea Utara, India termasuk Indonesia. Negara kita yang tercinta ini akhirnya juga ikut terjangkiti wabah Covid 19.

Kita sebagai makhluk-Nya, sebaiknya menganggap peristiwa wabah ini sebagai ujian dan penghapus dosa, tapi kuncinya harus bersabar.

Negara China sudah terlebih dahulu terkontaminasi wabah Covid 19 dan juga  melakukan Karantina dan Lockdown sejak awal virus corona menjangkiti negara mereka.

Kasus Pertama kali Virus Corona di China.

Pemerintah China melakukan penelusuran kembali kasus pertama yang teridentifikasi positif terpapar virus corona baru atau 2019-nCoV hingga beberapa waktu sebelumnya kasus terkonfirmasi ternyata pada tanggal 17 November 2019.

Wilayah China lainnya juga kemudian diberlakukan aturan ketat, seperti larangan acara kumpul-kumpul.

Di China diperkirakan hampir 81 ribu infeksi virus corona. 8700 kasus yang berakhir dengan kematian.

Mereka sudah melakukan karantina dan lockdown, begitu juga negara-negara Adidaya lainnya.

Semua negara yang terdampak Covid 19 memberlakukan berbagai usaha pencegahan, mulai dari keluarga, masyarakat, pemerintah. Begitu juga di Indonesia, Pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk dilakukan termasuk MUI, Kementerian Kesehatan, Kementrian Pendidikan, dan lainnya.
Tentunya bertujuan agar Covid 19 tidak subur di negeri kita ini atau tidak menyebar luas di tengah masyarakat.

Pemerintah melakukan pencegahan mulai dari antisipasi, jaga jarak satu hingga dua meter, anjuran memakai masker, memakai handsanitizer jika keluar masuk rumah, meliburkan semua sekolah, meliburkan beberapa perkantoran, menutup warung-warung yang ramai pengunjungnya, bahkan ada wilayah yang memberhentikan perjalanan lewat udara, laut maupun darat yang bertujuan untuk mencegah penyebaran covid 19 dengan mengurangi keramaian.

Melalui antisipasi tersebut, pemerintah menganjurkan proses belajar dari rumah, ibadah dari rumah, bekerja dari rumah bahkan karantina wilayah dan lockdown juga diberlakukan di sebagian tempat dan banyak kebijakan lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah demi mencegah penyebaran Covid 19 ini.

Begitulah kesulitan yang dirasakan oleh Pemerintah dan masyarakat kita selama wabah Covid 19 menjangkiti negeri ini.

Begitupun dengan para pelajar, mahasiswa, para guru dan dosen yang masih memiliki tanggung jawab belajar mengajar melalui online ataupun yang saat ini kita kenal dengan istilah daring.

Para pelajar dan mahasiswa dianjurkan belajar di rumah saja dengan memakai metode Belajar Daring, dengan berbagai macam aplikasi yang direkomendasikan oleh para guru dan dosen, agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Walaupun tidak maksimal, bahkan sebagian di tingkat pesantren, rumah Qur’an, TK-TPA dan PAUD pun belajar Daring.

Itulah salah satu langkah yang diambil oleh pihak sekolah, instansi Pemerintah maupun swasta untuk memanfaatkan waktu dan fasilitas yang ada sampai pandemi wabah covid 19 ini berakhir.

Belajar Daring ini jadi pilihan utama dan satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan, daripada sekolah diliburkan lebih baik belajar Daring. Karena belajar Daring masih bisa mewakili pembelajaran tatap muka walaupun menemukan kesulitan, kendala juga menjadi tantangan bagi para pengajar dan mahasiswa, namun itu semua adalah sebuah tantangan baru dalam dunia pendidikan di era digital dan teknologi modern ini, apalagi kondisi sekarang yang sedang krisis wabah maka tidak ada pilihan kecuali Belajar Daring.

Walaupun banyak kendala dan tantangan baru dalam pelaksanaannya, akan tetapi begitu banyak hikmah dan ilmu baru terutama berbasis medsos/dunia maya. Bahkan dalam jajaran Pemerintah, Instansi Swasta, Organisasi pun melakukan Meeting, Seminar, Musyawarah/Rapat, Diskusi dengan jalur Daring. Walaupun awalnya sangat asing dan kaku, namun setelah terbiasa akhirnya bisa menyesuaikan dengan melalui beberapa aplikasi sebagai pilihan untuk Daring seperti, Zoom, Edmodo, Classroom, WhatsApp dan apk lainnya semua kegiatan tetap berjalan walaupun belum maksimal.

Dalam belajar Daring dibutuhkan beberapa perangkat, seperti perangkat keras dan perangkat lunak, juga yang tidak boleh ketinggalan adalah jaringan Internet sehingga mampu mengikuti proses belajar mengajar dengan baik dan maksimal sesuai yang ditargetkan secara Belajar Daring.

Perangkat tersebut terdiri dari beberapa pilihan bagi yang mampu membelinya. Seperti HP Android, iPad, Laptop/komputer kemudian jaringan internet/Wi-Fi dan Sinyal yang bagus dan kuat biar belajar Daring nya mulus dan lancar.

Ternyata tidak semudah bercerita, untuk mengikuti proses belajar mengajar Daring, tidak semua para pelajar dan mahasiswa mampu mengikutinya. Hal ini dikarenakan berbagai faktor seperti, kekurangan fasilitas ataupun perangkat yang ingin digunakan untuk belajar Daring.

Beberapa kendala yang terjadi di lapangan yang tidak mampu mengikuti Belajar Daring yaitu sebagian mereka orang yang kurang mampu sehingga tidak bisa membeli hp android, ataupun laptop dan kuota internet nya, karena orang tua mereka hanya mampu membeli kebutuhan pokok apalagi saat Covid 19 menjangkiti menjadikan kehidupan mereka semakin sulit.

Dan ada juga sebagian mereka mampu dan memiliki fasilitas dan perangkat keras dan perangkat lunaknya seperti HP android, iPad dan atau laptop dan aplikasinya namun karena mereka tinggal di pulau, di desa pelosok dan desa tertinggal. Sehingga jaringan internet sangat sulit didapatkan di sana, bahkan ada desa yang tidak masuk jaringan internet sama sekali. Salah satunya wilayah dengan sinyal yang sangat buruk di daerah Kepulauan Riau.

Beberapa teman saya yang tinggal di beberapa pulau, seperti Desa Putik, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Anambas. Walaupun ada jaringan WiFi tapi lambat, terkadang sinyal bagus dan terkadang sulit terhubung.

Selain itu, ada Desa Kelumu, Kecamata Lingga, Kabupaten Lingga. Di sana terdapat jaringan internet, namun payah didapat. Adapula Desa Air Biru, Kecamatan Letung, Kabupaten Anambas. Daerah ini tidak pernah masuk jaringan internet sama sekali hingga saat ini.

Di beberapa pulau ini jaringan Internet kurang bagus. Terkadang sinyal terhubung, terkadang juga hilang. Ada pula sinyal yang jaringannya hanya terhubung setengah hari aktif.

Terdapat wilayah lain yang belum dimasuki jaringan Internet yaitu di kampung halaman saya sendiri. Saya pernah merasakan waktu pulang kampung dan semua saudara saya masih merasakan hal yang demikian di sana saat ini. Tepatnya di Pedalaman Provinsi Sumatera Utara, Kecamatan Mandailing Natal, tepatnya di daerah Sulangaling, yaitu 4 Desa terpencil dan tertinggal.

Nama-nama Desa tersebut adalah:
1. Desa Lubukkapundung 1
2. Lubukkapundung 2
3.Desa Hutaimbaru dan
4.Desa Ranto Panjang

Empat desa tertinggal ini adalah satu wilayah yang di namakan Sulangaling, Letak Geografisnya tepat di Tengah Hutan Tropis Batang Gadis Sumatera Utara.

Penduduknya sekitar 3000 jiwa, namun disana belum pernah masuk jaringan internet, bahkan Sinyal hp jenis telepon genggam pun 3 pekan belakangan ini sampai dini hari berstatus ‘no sinyal atau nomor yang anda hubungi sedang diluar jangkauan’ atau bahkan sama sekali tidak ada sinyal telepon genggam.

Disana bukan hanya sinyal telepon genggam atau jaringan internet yang tidak ada, namun anak generasi muda pun hampir 95% dari lulusan SMA tiap tahunnya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena faktor ekonomi yang buruk dan kehidupan anjlok dan terpuruk di tengah isolasi desa terpencil dan sangat jauh dari perkotaan.

Bagi orang yang tinggal di tengah perkotaan apalagi belum pernah menjelajahi atau mendengar daerah-daerah tertinggal, atau mungkin hanya melewati antara kota ini ke kota lain, mungkin bagi mereka keadaan seperti itu kedengarannya seperti mimpi atau tidak mungkin terjadi di dalam dunia nyata. Apalagi saat ini era modern yang serba teknologi canggih, namun ternyata begitulah kenyataan yang dirasakan sebagian saudara kita diberbagai pelosok bagian dari Indonesia dan mungkin masih banyak daerah terpencil lain yang merasakan hal yang demikian namun penulis dan para pembaca belum mengetahui berita tentang mereka yang berada di pelosok dan pedalaman.

Semoga semua kejadian ini ada hikmahnya. Karena dibalik musibah pasti ada hikmahnya.

Semoga Yang Maha Kuasa menjauhkan kita dari musibah wabah ini dan berharap wabah ini segera berakhir dan berlalu, kemudian kita akan menjalani kehidupan dengan episode yang berbeda. Semoga episode di kehidupan yang akan datang itu lebih baik daripada episode hari ini dan episode sebelumnya. Aamiin.

Lukmanul Hakim.

Mahasiswa STAIMU Semester 2.

17-04-2020 Tanjungpinang.

Related Articles

Back to top button
Close