IndexU-TV

Taliban yang Tak Pernah Tunduk Kepada Dunia

Taliban yang Tak Pernah Tunduk Kepada Dunia
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid. Antara/Reuters

Tanjungpinang – Tiga pekan setelah Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, akhirnya kelompok itu mengumumkan pembentukan Pemerintahan Baru Afghanistan, pada Selasa (07/09) waktu setempat.

Sejumlah tokoh kunci Taliban dipercaya untuk memegang posisi penting dalam susunan pemerintahan baru yang diumumkan juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam konferensi pers di Kabul.

Mullah Hasan Akhund ditunjuk sebagai perdana menteri pemerintah sementara Afghanistan, dengan Mullah Abdul Ghani Baradar dan Abdul Salam Hanafi ditunjuk sebagai penjabat wakil perdana menteri.

Sementara Sarajuddin Haqqani, putra pendiri jaringan Haqqani –yang hingga kini masih berstatus ‘buronan teroris’ paling dicari FBI, ditetapkan menjadi pejabat menteri dalam negeri. Mullah Mohammad Yaqoob, putra mendiang pendiri Taliban Mullah Mohammad Omar, ditunjuk sebagai penjabat menteri pertahanan.

Yang lebih mengejutkan lagi, pemimpin tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada, didapuk menjadi emir Imarah Islam Afghanistan.

Baca juga: Taliban tak Ingin Kerja Sama dengan Israel

Hampir seluruh pemimpin dunia, terpukul dengan struktur pemerintah sementara Afghanistan tersebut. Pasalnya, kesepakatan bersama antara Taliban dan pemimpin dunia pasca mengambilalih kekuasaan di Afghanistan, adalah janji Afghanistan untuk membentuk pemerintahan yang eksklusif, memberikan ruang publik yang cukup untuk hak perempuan, dan tidak menjadikan Afghanistan sebagai sarang dan suaka bagi teroris internasional.

Sayangnya, hampir seluruh janji dan kesepakatan tersebut dilanggar. Semua posisi teratas diserahkan kepada para pemimpin kunci dari gerakan jaringan Haqqani, cabang dari Taliban yang dikenal karena serangan-serangannya yang menghancurkan.

Ketika ditanya mengapa tidak ada perempuan yang diberi jabatan, seorang tokoh senior Taliban mengatakan kepada BBC, bahwa kabinet sementara Pemerintahan Afghanistan itu belum final.

Nama Haqqani menarik untuk diperhatikan, mengingat hingga saat ini dirinya masih berada dalam daftar orang paling dicari oleh Badan intelijen AS FBI, bahkan kepalanya dihargai dengan angka yang cukup tinggi, 6,77 juta dolar AS.

Bahkan jaringan yang dipimpinnya, yang mendominasi sebagian besar Afghanistan timur, telah disalahkan atas serangan dramatis di Kabul dalam dua dekade terakhir dan mendalangi penculikan, terutama warga negara Amerika. Termasuk tragedi Mark Frerichs, seorang kontraktor sipil AS, yang diculik pada Januari 2020 dan belum terdengar kabarnya sejak itu.

Penunjukkan Sarajuddin Haqqani sebagai sosok teroris paling dicari AS, sebagai Menteri Dalam Negeri, menjadi bukti nyata bahwa Taliban tak pernah tunduk kepada keinginan pemimpin dunia.

“Taliban baru, sama dengan Taliban lama,” cuit Bill Roggio, redaktur pelaksana Long War Journal yang berbasis di AS melalui Twitter.

“Sama sekali tidak inklusif, dan itu sama sekali tidak mengejutkan. Taliban tidak pernah mengindikasikan bahwa menteri kabinetnya akan memasukkan siapa pun selain diri mereka sendiri,” kata pakar Asia Selatan di Woodrow Wilson International Center for Scholars, Michael Kugelman.

Bukan hanya kritik dari luar negeri, gelombang protes dalam negeri juga dihadapi oleh Taliban. Dalam seminggu terakhir, semakin banyak protes terdengar karena warga Afghanistan takut akan terulangnya pemerintahan Taliban sebelumnya yang brutal dan menindas.

Hingga Selasa (7/9), ratusan orang berkumpul di beberapa demonstrasi di Kabul, di mana penjaga Taliban melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumunan. Di Herat, ratusan demonstran berbaris, membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera Afghanistan, sambil berteriak “kebebasan”.

Exit mobile version