Konflik Perkebunan di Kampar Riau Sebabkan Ratusan Anak Terlantar

Konflik Perkebunan di Kampar Riau Sebabkan Ratusan Anak Terlantar
Dokumentasi keluarga para eks karyawan PT Padasa Enam Utama yang terlantar. ANTARA

Pekanbaru – Konflik perkebunan PT Padasa Enam Utama di Kabupaten Kampar, Riau dengan mantan karyawan menyebabkan ratusan anak terlantar.

Merespons konflik itu, Wakil Ketua DPRD Riau, Agung Nugroho menyatakan, mereka bersama pemangku kebijakan terkait akan mendalami konflik yang menyebabkan anak-anak terlantar karena tak ada tempat tinggal.

“Kami sudah mendapat laporan dari Komnas Perlindungan Anak Riau bahwa terjadi konflik yang berujung pada pengusiran karyawan oleh perusahaan. Akibatnya anak-anaknya menjadi korban karena tidak ada tempat tinggal,” kata dia, di Pekanbaru, Jumat (08/10).

Saat ini personel di Pangkalan Udara TNI AU Roesmin Nurjadin juga telah mendirikan tenda darurat untuk menampung sementara karyawan berikut keluarganya yang terusir itu.

“Saya bersama OPD terkait akan turun ke lokasi konflik. Kami ingin tahu yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kondisi riilnya. Tidak boleh ada tindakan sewenang-wenang terjadi di Riau ini,” kata dia.

Kisruh berawal saat pengusiran secara paksa dilakukan oleh pihak perusahaan kepada pekerja yang sudah diberhentikan. Namun eks buruh yang di-PHK itu menolak untuk keluar dari rumah karena perusahaan diduga belum memenuhi hak-hak mereka. Dampaknya seratusan anak-anak eks pekerja juga terlantar akibat konflik tersebut.

“Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Apalagi mereka juga tidak ada opsi tempat tinggal lain yang mengakibatkan banyak anak-anak terlantar. Kami akan menelusuri duduk perkaranya. Kalau bisa kami akan bentuk pansus,” kata dia.

Baca Juga: Empat Penjual Kulit Harimau di Kampar Riau Ditangkap

Tak sebatas itu, PT Padasa Enam Utama juga masuk dalam “daftar merah” temuan pansus monitoring lahan dan perizinan yang telah dibentuk DPRD Riau beberapa tahun lalu. Agung mengatakan pihaknya akan memanggil perusahaan sawit itu guna menelusuri terkait izin perusahaan.

“Kita akan buka kembali data dari pansus monitoring lahan. Kita akan panggil PT Padasa. Tapi sebelum itu kami akan turun dulu untuk untuk menyelesaikan konflik dengan masyarakat yang merupakan mantan pekerja,” kata dia.

Sebelumnya, pihak PT Padasa Enam Utama melalui Corporate Lawyer Rekanan, Rusdinur, menjelaskan tindakan pengosongan perusahaan itu adalah sah secara hukum untuk mengamankan aset perusahaan, karena yang menempati statusnya bukan karyawan perusahaan sehingga mereka tidak berhak menguasai fasilitas tersebut.

Perusahaan mengklaim sudah berulang kali melayangkan peringatan secara persuasif kepada para mantan pekerja.

“Kami tegaskan PT Padasa bekerja dan beroperasi atas izin dan prosedur yang resmi dari negara. Kemudian tindakan pengosongan yang dilakukan kemarin adalah tindakan yang sah secara hukum, karena mereka statusnya bukan karyawan perusahaan,” ucap Rusdinur. (*)

4205

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *