IndexU-TV

Pasukan EW Rusia Jatuhkan 90 Persen Drone Ukraina, Ini Perangkatnya

Orlan-10 yang berfungsi sebagai Jammer Drone atau pengecoh sinyal radio yang diandalkan Rusia untuk berperang melawan drone Ukraina. (Foto:Russian Defence Ministry)

JAKARTA – Pasukan tempur elektronik (Electronic Warfare) Rusia diakui lebih unggul menurut para analis dari pasukan serupa milik Ukraina, selama operasi militer khusus berlangsung.

Pasukan EW Rusia telah membuktikan keandalannya adalah fakta yang tak terbantahkan, karena sudah menjatuhkan 90 persen drone yang dikerahkan oleh Ukraina untuk melawan Rusia.

Bicara keunggulan itu, tentunya pasukan EW Rusia dibekali perangkat teknologi yang mumpuni untuk menangkal serangan drone Ukraina yang mayoritas bantuan dari negara-negara Barat.

Sebut saja sistem intelijen sinyal TORN dan SB-636 Svet-KU, adalah salah satu perangkat sistem yang mendukung pasukan perang elektronik Rusia untuk melacak sinyal radio Ukraina.

Selanjutnya ada juga RB-341V Leer-3, yang menggabungkan drone Orlan-10 untuk mengacaukan jaringan terlepon seluler dengan pos komando di truk KamAZ- 5350.

Kemudian, Rusia punya perangkat R-934B Sinitsa radio-jammer dan R-330Zh Zhitel yang bertugas memblokir jalur satelit.

Pasukan EW Rusia sangat kuat, sehingga menyulitkan Ukraina untuk mempertahankan drone mereka di udara.

Mengapa demikian, sebab sistem perang elektronik Rusia berfungsi dengan baik. Sementara, sang operator memiliki banyak waktu untuk menyiapkan perangkat dan mengkoordinasikan berbagai fungsi sistem.

Sehingga pasukan EW Rusia sangat ditakuti di wilayah Donbas Ukraina timur, di mana pasukan Rusia dan separatis memegang posisi yang kira-kira sama selama tujuh tahun sejak 2015, hingga perang saat ini yang lebih luas cakupannya, tulis Forbes.

Kesalahan Rusia pada beberapa minggu pertama serangannya terhadap Ukraina, adalah karena batalion-batalion tempur Rusia belum siap dengan pasukan EW.

Baca juga: Weaponized Drone, UAV Bersenjata Produksi Dalam Negeri
Perangkat tempur perang elektronik yang dioperasikan Rusia untuk menjatuhkan drone tempur Ukraina. (Foto:TASS)

Bahkan di awal perang pasukan Rusia terlalu cepat menyerang dan kemudian mundur. Hal ini kemudian berubah mulai di bulan Maret dan April, ketika pasukan Rusia yang babak belur usai mundur dari Oblast Kyiv melakukan reposisi di timur.

Pilot pesawat tempur angkatan udara Ukraina adalah yang pertama merasakan efek dari meningkatnya jamming Rusia.

“Ketika kompleks E.W. Rusia mulai dikerahkan secara sistematis, pilot Ukraina menemukan bahwa komunikasi udara-ke-darat dan udara-ke-udara mereka sering macet, peralatan navigasi mereka ditekan dan radar mereka rusak,” ujar sumber yang diwawancarai Forbes.

Selanjutnya, pasukan jammer Rusia segera berkumpul di tanah di timur. “Dengan konsentrasi upaya di Donbas, Rusia mendirikan kompleks EW hingga 10 kompleks per bagian depan (13 mil),” kata analis RUSI.

“Secara kolektif, kompleks ini efektif mengganggu navigasi di sepanjang garis depan dan melakukan pencarian arah untuk mengarahkan serangan artileri dan elektronik terhadap pesawat dan UAV Ukraina.”

Sebaliknya, brigade dan baterai Ukraina bergantung pada dua jenis drone yang luas untuk menemukan pasukan Rusia, yaitu quadcopter dan octocopter kecil yang melayang serta UAV sayap tetap yang lebih besar seperti Bayraktar TB-2 buatan Turki.

“Saat gangguan Rusia mengacaukan GPS dan memutus sambungan radio, drone itu mulai berjatuhan seperti lalat,” lanjut analis.

Dari sejak itu, drone seperti TB-2 Bayraktar bikinan Turki yang dikerahkan Ukraina sudah mulai jarang terekspos di medan perang.

Baca juga: Senapan Serbu Haenel CR223 Bakal Dimusnahkan usai Terbukti Jiplak H&K
Exit mobile version