PEMBERITAHUAN Kepada Pembaca ulasan.co Kami menginformasikan logo ulasan.co telah diganti dengan logo terbaru, yang lebih menarik. Semoga tetap menjadi penyemangat kami untuk berkarya sebagai garda terdepan dalam menginformasi berbagai peristiwa penting. Selamat Membaca. Salam Sehat!
Artikel

Akibat Pelecehan Ekologis : Krisis Air Saat Kemarau Dan Banjir Menerjang Di Musim Hujan

Oleh : Syamsinar Noviyati

Dewasa ini aktivitas pembangunan akibat dari tuntuan kebutuhan manusia telah sampai pada taraf “memaksa” alam.  Kerakusan dalam memanfaatkan sumber daya alam sudah melampaui kapasitas lingkungan untuk memulihkan dirinya secara alami. Hubungan manusia dengan alam sudah mulai berubah tidak lagi akrab tetapi terkesan eksploitatif, nyaris bermusuhan. Alih fungsi lahan resapan, lahan mangrove, sempadan sungai untuk kegiatan pembangunan perumahan dan aktivitas perkotaan lainnya marak terjadi sebagai gambaran ekploitasi alam oleh manusia. Sebaliknya alampun memberi reaksi terhadap kegiatan eksploitasi tersebut dengan hadirnya banjir di musim hujan dan krisis air pada saat kemarau.  Manusia seolah memusuhi alam dengan menyalahkan intensitas curah hujan yang tinggi, musim yang tak menentu, gelombang pasang yang tinggi. Meskipun ironi, tetapi hal ini terus berulang dan kita sering lupa dan abai untuk mengatasinya secara nyata ketika “bencana” itu telah pergi. Kekeringan dan banjir datang silih berganti memberi pelajaran bahwa ada suatu saat kekurangan air tetapi pada saat yang lain kelebihan air. Mestinya manusia dapat mengatur sedemikian agar sepanjang waktu bisa kecukupan air, tidak mengalami kekurangan dan kelebihan.

Siklus air telah mengajarkan kepada kita bagaimana alam bekerja sebagai pemberi kehidupan (live giving role) yang berlangsung terus menerus dan selalu menjaga keseimbangannya.  Air hujan yang jatuh ke tanah, akan meresap melalui tanah, humus, rumput, dan akar pohon. Selain meresap ke dalam tanah, air juga mengisi badan air yang ada dipermukaan seperti danau, sungai dan laut. Air hujan yang meresap ke tanah pada akhirnya juga menuju ke laut namun setelah melalui proses penyerapan oleh akar tanaman, mengisi ruang pori tanah  yang memberi manfaat bagi spesies dan lingkungan didalam tanah. Pada kondisi jenuh, air yang datang tidak dapat ditampung karena kapasitas tanah untuk menampung air sudah penuh, dan air akan mengalir ke arah yang lebih rendah atau kering. Apabila kapasitas kebasahan tanah/soil moisture ini terlampaui maka kelebihan airnya akan berperkolasi (mengalir vertikal) mencapai air tanah.  Aliran air tanah (ground water flow) sesuai dengan hukum-hukum fisika yaitu mengalir mencapai danau, sungai, dan lautan menjadi depression storage (simpanan air yang disebabkan oleh kubangan/cekungan), saluran, dan sebagainya, seterusnya air akan mencari tempat lebih rendah.  Air hujan yang mencapai tanah, sebagian berinfiltrasi (menembus permukaan tanah), sebagian lagi menjadi aliran air di atas permukaan (over land flow), kemudian terkumpul pada saluran. Aliran air permukaan disebut surface run off atau run off  terjadi akibat adanya sejumlah air yang tertampung baik di badan air maupun di tempat-tempat cekungan pada waktu hujan ketika kecepatan air berinfiltrasi lebih kecil dibandingkan dengan intensitas hujan yang jatuh sehingga terjadi genangan yang pada gilirannya apabila tampungan cekungan tersebut terlampaui maka air akan mengalir ke arah yang lebih rendah. Apabila jumlah air pada proses aliran permukaan ini sangat besar maka menjadi luapan aliran permukaan atau sering dinamakan banjir.

Masih lekat dalam ingatan kita kejadian banjir yang melanda sebagian wilayah Pulau Bintan. Sangat menyedihkan menyaksikan sebagian dari kita berjuang meyelamatkan jiwa dan harta benda dari terjangan banjir. Ada sebagian wilayah yang sudah “terbiasa” menghadapi banjir namun tidak sedikit masyarakat yang baru pertama kali menghadapi bencana ini. Berbagai argumen disampaikan banyak pihak terkait penyebab terjadinya bencana banjir ini pada saat itu. Semua pihak bergerak dengan berbagai perangkat dan kebijakannya untuk mengatasi masalah banjir pada saat itu dan memulihkan keadaan agar bisa berjalan normal kembali.  Seiring berjalan waktu, musim pun berganti menjadi kemarau. Fenomena bencana banjir beberapa waktu yang lalu mulai pudar dari ingatan dengan hadirnya keluhan atas kekurangan air bersih dibeberapa lokasi di Pulau Bintan khususnya Kota Tanjungpinang. Beberapa hari PDAM tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Air sumur mulai berkurang akibat kekeringan dibeberapa wilayah. Pemandangan dibeberapa lokasi tempat sumur umum dan hidran umum mulai ramai dari biasanya. Masyarakat yang biasanya mendapatkan air bersih langsung dari sambungan rumah atau sumur di  rumah masing – masing harus bersusah payah mengangkut air bersih dari beberapa lokasi yang masih memiliki cadangan air bersih, bahkan harus rela merogoh saku lebih dalam untuk membeli air bersih di tengah krisis ekonomi akibat covid-19 yang belum kunjung usai. 2 (Dua) Fenomena yang terjadi pada saat yang tidak terlalu jauh namun cukup kontras dan berpengaruh dalam proses kehidupan dan penghidupan manusia utamanya di kawasan perkotaan. Fenomena banjir dimusim hujan dan krisis air ketika kemarau sepatutnya dapat diantisipasi minimal dikurangi dampaknya dengan menerapkan konsep siklus air.

Kembali kita belajar dari alam bagaimana siklus air mengajarkan kepada kita konsep menampung, menyerap, dan memanfaatkan  air hujan sebelum mengalir ke lokasi yang lebih rendah seperti danau, sungai dan laut dengan mulai dari lingkungan terkecil yaitu hunian kita masing-masing. Lahan bangunan rumah tempat tinggal awalnya merupakan lahan terbuka yang dapat menyerap air hujan dan ketika beralih fungsi menjadi bangunan maka fungsinya akan berkurang. Beralihnya lahan terbuka menjadi lahan terbangun menyebabkan meningkatnya aliran air permukaan (run off) ke lokasi yang lebih rendah. Upaya untuk menggantikan proses penyerapan air pada lahan terbuka dapat dilakukan dengan menampung air hujan yang jatuh di atap bangunan rumah tinggal melalui pipa ke bangunan ground water tank, tandon air, sumur resapan serta drainase ramah lingkungan. Air yang ditampung dapat dimanfaatkan untuk mencuci mobil, menyiram tanaman, menggelontorkan limbah domestik, cuci, mandi, bahkan untuk air bersih yang dapat dikonsumsi dengan treatment tertentu terlebih dahulu. Sementara air yang dialirkan ke sumur resapan dapat dilanjutkan dengan proses perkolasi dibawah permukaan tanah yang berfungsi untuk cadangan air bawah tanah dan mengisi sumur di sekitar hunian kita.  Keberadaan ruang terbuka hijau di pekarangan rumah juga membantu proses penyerapan air kedalam tanah. Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan, dan memelihara dengan tidak minimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan seperti yang disampaikan agus maryono dalam bukunya Memanen Air hujan.  Drainase ramah lingkungan dikenal dengan slogan drainase TRAP, yaitu Tampung, Resapkan, Alirkan, dan Pelihara merupakan salah inovasi dalam mengurangi bencana banjir.  Upaya upaya yang dikemukakan ini bukan hal yang baru, beberapa bangunan gedung telah menerapkan konsep zerro run off dengan memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan air bersih penghuni gedung, salah satunya gedung  Grha Wiksa Praniti yang berada di jalan Turangga Kota Bandung.  Di beberapa wilayah gerakan memanen air hujan juga mulai digalakkan untuk mengurangi bencana banjir dan mengatasi krisis air. Selain itu, dengan memanen air hujan juga mengisi air tanah. Upaya untuk menampung air hujan dari persil rumah baik melalui konsep zerro run off, gerakan memanen air hujan, drainase ramah lingkungan adalah cara kita menjalin hubungan dengan alam secara etika atau bersahabat dengan alam. Mengutip tulisan Leopold dalam bukunya “ A Sand Country Almanac” sebagaimana dalam buku Kota Berwawasan Lingkungan (Budiharjo, Eko, 1994), bahwa konsep ekologis memang mengenal lahan, air dan udara sebagai suatu komunitas; tetapi bahwa ketiganya itu harus dihargai dan dicintai, merupakan etika tersendiri yang unik. Etika lingkungan ini perlu dimasyarakatkan agar tudingan bahwa kita sedang melakukan “bunuh diri ekologis” dapat kita bantah.  Masih dalam buku yang sama, perumpamaan dari Prof Emil Salim tentang pola pembangunan berwawasan lingkungan :

“Kalo lingkungan kita umpamakan gula dan pembangunan air tehnya maka yang diperlukan sekarang adalah melarutkan gula dalam air teh hingga menjadi air teh yang manis”

2 (Dua) pernyataan diatas menggunggah kembali kesadaran kita untuk lebih mensyukuri nikmat sang pencipta melalui jalinan hubungan yang harmoni dengan alam yang dimulai dari lingkungan rumah kita masing masing.

Saat ini tantangannya adalah merubah pola pikir masyarakat yang semula tidak peduli air hujan untuk lebih peduli, sebab banyak manfaat yang bisa diambil dari air hujan. mempertemukan komunitas, pemerintah, akademisi, praktisi, dan dunia usaha untuk menggaungkan kembali gerakan memanen air hujan sepatutnya kita lakukan. Edukasi dan sosialisasi  menggalakkan gerakan memanen air hujan dan zerro run off dari persil bangunan melalui penanaman pohon, pembangunan sumur resapan, drainase ramah lingkungan, pembuatan ground water tank untuk menampung air hujan guna memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus mengurangi genangan pada saat musim hujan. Regulasi berupa peraturan perundang-undangan antara lain Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Air Hujan pada Bangunan Gedung dan Persilnya merupakan acuan bagi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan penyelenggara bangunan gedung dalam mengelola air hujan pada bangunan gedung dan persilnya. Menarik dalam peraturan ini juga menjadi acuan bagi penyelenggara bangunan gedung yaitu pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. Tanggung jawab mengelola air hujan bukan hanya oleh pemerintah daerah namun merupakan tanggung jawab kita semua sebagai pemilik maupun pengguna bangunan. Berbuat kecil namun memberi pengaruh pada lingkungan yang lebih luas bahkan lingkungan global seperti memanen air hujan dari persil rumah merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai umat manusia dalam memperlakukan alam dengan menjunjung etika lingkungan. Mari kita mengelola lingkungan hidup di tengah pembangunan yang pesat ibarat menyeduh teh manis agar bisa diseruput dengan nikmat dan menghasilkan suasana yang nyaman.

 

Related Articles

Back to top button
Close